• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Dari Hutan Halimun ke Hutan Sokokembang: Catatan Perjalanan MSO 12

Dari Hutan Halimun ke Hutan Sokokembang: Catatan Perjalanan MSO 12

Narasi oleh: Muhammad Nur (Koordinator Lapangan KIARA)

Perjalanan ini dimulai dari Terminal Bubulak, Bogor, Jawa Barat. Dengan Bus Agra Mas, saya menempuh perjalanan panjang, sekitar sebelas jam menuju Doro, Pekalongan, Jawa Tengah. Waktu menunjukkan sekitar pukul 03.45 dini hari ketika kami tiba. Di sana, Mas Adin sudah menunggu, menjemput kami dengan hangat. Kami singgah sejenak di rumah beliau, beristirahat, dan menunggu peserta lain yang datang dari berbagai daerah.

Pagi harinya, kami berkumpul. Sarapan bersama menjadi pembuka hari sebelum perjalanan dilanjutkan menuju Dusun Sokokembang dengan menaiki doplak (mobil pick-up).

Kegiatan Metode Survei Owa (MSO) ke-12 bersama SwaraOwa berlangsung selama lima hari, dari 3–7 November 2025. Selama kegiatan, kami tinggal di rumah warga dan merasakan langsung keseharian masyarakat sekitar hutan Petungkriyono. Hari pertama diisi dengan perkenalan peserta dan organisasi, dilanjutkan dengan pengenalan SwaraOwa serta lanskap Hutan Petungkriyono yang menjadi ruang belajar kami.

Materi utama yang kami pelajari adalah metode survei owa, khususnya triangulasi dan bioakustik. Kami belajar bahwa survei owa bukan soal melihat, tetapi mendengarkan. Dengan dibagi ke dalam tiga tim, masing-masing ditempatkan di titik yang telah ditentukan dan dipandu oleh kakak-kakak panitia, kami memasang alat perekam sesuai waktu dan hari yang ditetapkan. Pagi-pagi buta, dalam keheningan hutan, kami menunggu, menyimak dan mencatat.

Setelah praktik lapangan, kami kembali berkumpul untuk belajar menganalisis data bersama. Hasil triangulasi dan rekaman suara owa yang kami kumpulkan didiskusikan. Pengalaman ini memberi kesan mendalam bagi saya. Metode yang tampak sederhana ternyata mengajarkan banyak hal: kesabaran, ketelitian, dan kerja sama tim. Suara owa yang menggema di antara pepohonan menjadi pengingat bahwa hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan rumah bagi banyak makhluk hidup, rumah yang keberadaannya bergantung pada kesadaran kita untuk melindunginya.

Dalam proses ini, saya juga merasakan betapa kuatnya nilai perjumpaan. Kami datang dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda, namun dipertemukan oleh tujuan yang sama: belajar dan menjaga. Di titik ini, saya teringat firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, tentang manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Perbedaan adalah sunatullah, dan sebagai khalifah di muka bumi, tugas kita adalah saling mengenal, saling belajar, dan menebarkan kasih sayang kepada sesama makhluk-Nya.

Selain materi utama, kami juga mendapatkan materi tambahan yang sangat berharga yang memperluas cakrawala pengetahuan saya. Ilmu dari Kak Celia (IdSSG), Dr. Long, dan Mr. Van Bui, yang berbagi pengalaman tentang penelitian konservasi dan ekowisata owa di Vietnam. Perspektif lintas negara ini memperkaya pemahaman kami bahwa upaya konservasi adalah kerja panjang yang membutuhkan kolaborasi lintas batas.

Lima hari empat malam di Sokokembang menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Saya pulang dengan ilmu baru, jaringan pertemanan yang lebih luas, dan kesadaran yang semakin dalam bahwa mendengar baik suara hutan maupun suara sesama adalah bagian penting dari kerja konservasi.

Terima kasih kepada Yayasan KIARA yang telah memberikan izin dan dukungan sehingga saya bisa mengikuti MSO 12.
Terima kasih kepada SwaraOwa atas kesempatan belajar yang sangat berharga ini.
Terima kasih kepada Mas Taka yang bersedia menemani perjalanan.
Terima kasih kepada Mas Adin atas segala keramahan dan kesediaannya direpotkan.
Dan terima kasih kepada semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *