• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Dari Doa Seorang Guru, Lahirlah Ruang Belajar Bersama: Lokakarya Pengembangan Kokurikuler Berbasis Konservasi Owa Jawa

Dari Doa Seorang Guru, Lahirlah Ruang Belajar Bersama: Lokakarya Pengembangan Kokurikuler Berbasis Konservasi Owa Jawa

Oleh: Rahayu Oktaviani

Saya masih ingat betul pertemuan pertama saya dengan Pak Harun, seorang guru dari SDN Rimba Kencana. Tahun itu 2021. Kami bertemu di sebuah kegiatan guru-guru di Kantor Resort Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saat itu KIARA baru mampu menjalankan kelas konservasi reguler di satu sekolah cabang, dengan segala keterbatasan sumber daya.

Pak Harun tahu itu. Ia tahu kami sedang belajar pelan-pelan, sambil berjalan. Di akhir percakapan, ia menyampaikan satu kalimat yang saya simpan sampai hari ini: semoga suatu saat KIARA bisa berkegiatan di sekolah kami, dan membantu mengembangkan kapasitas para guru.

Empat tahun kemudian, doa itu menemukan jalannya..

Pada 21–23 Januari 2026, KIARA menyelenggarakan lokakarya guru pertama yang secara khusus dirancang untuk sekolah-sekolah yang berada di sekitar habitat owa jawa berjudul Lokakarya Pengembangan Kokurikuler Berbasis Konservasi Owa Jawa. Tujuannya Adalah kami ingin belajar bersama: bagaimana pendidikan konservasi owa jawa bisa hadir di sekolah, bukan sebagai beban tambahan, tapi sebagai bagian dari pembelajaran yang hidup dan relevan.

Selama tiga hari, dua belas orang guru dari tujuh sekolah dasar berkumpul, mereka datang dari tiga kabupaten: Lebak, Bogor, dan Sukabumi. Sekolah-sekolah tersebut adalah: SDN Rimba Kencana, SDN Malasari 03, SDN Malasari 01, SDN 1 Lebak gedong, SDN 2 Cihambali, SDN 1 Pameungpeuk dan SDN Linggarjati. Sekolah-sekolah kecil di tepi hutan, yang sehari-hari hidup berdampingan dengan alam, dan diam-diam memikul tantangan pendidikan yang tidak ringan.

Hari Pertama: Belajar Kembali Cara Mengajar

Hari pertama diisi dengan membongkar ulang pengalaman mengajar. Bersama fasilitator kami, Kak Mega dari Pause and Grow, yang juga seorang praktisi pendidikan, para guru diajak mengeksplorasi berbagai teknik ice breaking, metode kreatif, dan pendekatan aplikatif agar ruang kelas tidak menjadi ruang yang membosankan.

Di hari yang sama, diskusi tentang owa jawa dibuka. Banyak mata yang berbinar. “Saya baru tahu kalau dari kotoran owa bisa tumbuh pohon,” ujar salah satu guru.

Owa jawa memang bukan sekadar satwa asli identitas Pulau Jawa, ia adalah penyebar biji alami, penjaga regenerasi hutan. Dalam penelitian jangka panjang yang kami lakukan, owa jawa berperan sebagai “petani hutan”, menyebarkan biji ke berbagai penjuru kanopi. Fakta-fakta sederhana seperti ini menjadi jembatan penting antara sains dan ruang kelas. Dan ketika guru memahami itu, saya membayangkan anak-anak di kelas mereka suatu hari akan memandang hutan dengan cara yang berbeda.

Hari Kedua: Mendengarkan, Berempati, dan Mencipta Bersama

Hari kedua terasa lebih reflektif. Materi tentang active listening, parafrase, dan empati membuka percakapan yang hangat, tentang tantangan mengajar, tentang anak-anak, tentang keterbatasan, dan tentang harapan.

Diskusi ini mengalir ke sesi co-creation modul “Bangga Owa Jawa”. Para guru tidak diposisikan sebagai penerima modul, melainkan sebagai mitra pencipta. Masukan mereka sangat kaya dan membumi, bagaimana modul ini bisa selaras dengan kurikulum nasional, sekaligus fleksibel untuk diterapkan di sekolah-sekolah dekat hutan.

Bagi kami sendiri di KIARA, sesi ini sangat berharga. Ia mengingatkan bahwa pendidikan konservasi tidak bisa dirancang dari meja kantor saja, ia juga bisa lahir dari pengalaman guru-guru yang setiap hari berdiri di depan kelas.

Hari Ketiga: Ruang Kelas yang Penuh Tawa

Hari terakhir diisi dengan micro-teaching atau simulasi mengajar. Ruang lokakarya berubah menjadi panggung kecil. Satu per satu guru berdiri, sementara guru lain berperan sebagai murid. Ruang kelas seketika hidup: ada “murid” yang lupa pensil, ada yang mengobrol, ada yang sulit fokus, persis seperti kenyataan.

Gelak tawa pecah. Tapi di balik itu, ada pembelajaran serius. Bagi kami di KIARA, sesi ini menjadi cermin untuk menyederhanakan bahasa, memperbaiki alur, dan memastikan materi benar-benar bisa sampai ke anak-anak dan mudah untuk dimengerti.

Saya sendiri sambil duduk mendengarkan, ingatan saya kembali ke masa sekolah dasar, ke ruang kelas kecil, mendengarkan bapak dan ibu guru yang dengan tulus membimbing. Tanpa mereka, saya tidak akan berada di titik ini.

Proses ini juga mengingatkan saya pada satu kenyataan yang sering luput dibicarakan: akses pelatihan profesional bagi guru di Indonesia masih sangat tidak merata. Berbagai kajian menunjukkan bahwa program pengembangan kapasitas guru lebih banyak terpusat di wilayah perkotaan, sementara guru-guru di daerah pinggiran, pedesaan, dan kawasan penyangga hutan sering tertinggal, baik dari sisi pelatihan pedagogis, pengayaan metode mengajar, maupun pendampingan berkelanjutan. Bukan karena mereka tidak mau belajar, tetapi karena sistem belum sungguh-sungguh sampai ke tempat mereka berdiri.

Karena itu, kami berharap lokakarya ini bukan sekadar tiga hari kegiatan, melainkan bekal yang dibawa pulang,untuk diterapkan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan ruang kelas mereka masing-masing.

Di akhir kegiatan, seorang guru berkata: Do something creative every day.” Kalimat itu saya bawa pulang. Seperti doa Pak Harun beberapa tahun lalu, sederhana, tapi saya yakin, punya kekuatan untuk mengubah arah.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *