• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Owa Bukan Peliharaan: Cerita Edukasi KIARA di Hari Primata Indonesia

Owa Bukan Peliharaan: Cerita Edukasi KIARA di Hari Primata Indonesia

Narasi oleh: Rahayu Oktaviani

“Whoooo wants to know more about Javan gibbons?” (dibaca dengan nada khas Mr. Krabs di SpongeBob).

Belum sempat kalimat itu benar-benar selesai, puluhan tangan sudah terangkat ke udara, tak sabar untuk ikut menjawab. Di momen seperti itu, saya selalu merasa bahwa pendidikan konservasi selalu bisa dimulai dari rasa ingin tahu, tawa, dan antusiasme yang jujur.

Dalam rangka memperingati Hari Primata Indonesia, 30 Januari 2026, KIARA kembali menyambangi Sekolah Bogor Raya – International School. Ini adalah kali kedua kami hadir di sekolah ini. Bagi KIARA, kegiatan seperti ini bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari komitmen kami, karena kami percaya, upaya konservasi jangka panjang harus dimulai sejak dini, bersama anak-anak.

Kali ini, kami membawa satu pesan utama: Owa Bukan Peliharaan.
Owa jawa adalah satwa asli Pulau Jawa, hidup hanya di sini, dan dilindungi oleh hukum di negara ini. Namun, ironisnya, masih banyak orang yang belum mengenalnya, atau bahkan menganggapnya bisa dipelihara. Lewat kegiatan ini, kami ingin mengajak anak-anak dan para pendidik untuk memahami bahwa tempat terbaik bagi owa jawa adalah di alam, di hutan, bukan di dalam kandang manusia. Bukan hanya karena memeliharanya melanggar hukum, tetapi karena kesejahteraan satwa liar tidak pernah benar-benar bisa dipenuhi ketika mereka kehilangan kebebasannya.

Suasana kelas semakin hidup ketika Owi, maskot owa jawa KIARA, muncul. Seperti biasa, Owi langsung mencuri perhatian. Lebih dari 100 siswa bergabung dalam sesi belajar bersama, tertawa, bertanya, dan berinteraksi dengan penuh rasa ingin tahu. Khusus untuk murid kelas 4, kami mengajak mereka berdiskusi lebih dalam bersama Kak Amin di dalam ruang kelas. Sebuah pertanyaan pemantik kami lontarkan:
“Kalau owa dipelihara, lalu siapa yang menjadi petani hutan? Siapa yang membantu menjaga hutan tetap lestari?”

Di tengah sesi diskusi, seorang siswa mengangkat tangan dan dengan percaya diri berkata,
“Deforestation is a threat for Javan gibbon!” Saya terdiam sejenak. Terpana. Mendengar isu deforestasi keluar dari mulut seorang anak mengingatkan saya bahwa cerita tentang hutan, tentang ancaman, dan kehilangan sudah sampai ke generasi yang lebih muda. Dan di situlah harapan itu terasa nyata.

Sebagai bagian dari upaya menumbuhkan empati, kami juga membagikan buku terbaru KIARA berjudul Aku Bukan Peliharaan kepada siswa dan guru. Buku ini kami rancang bukan hanya untuk memberi pengetahuan, tetapi untuk membantu anak-anak memahami perasaan, kehilangan, dan hak satwa liar untuk hidup di alamnya sendiri.

Di akhir kegiatan, anak-anak diminta menuliskan satu hal yang mereka pelajari hari itu lewat selembar kertas. Membacanya satu per satu adalah penutup yang paling berkesan. Kalimatnya sederhana, apa adanya, namun penuh makna. Salah satunya berbunyi: “I learn Javan gibbon is not a pet.”

Dan bagi kami di KIARA, itulah inti dari pendidikan konservasi: ketika sebuah pesan sederhana bisa tertanam, dan perlahan bisa tumbuh bersama mereka.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *