• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
IUCN Green Status of Species: Assessment Workshop 2026

IUCN Green Status of Species: Assessment Workshop 2026

Narasi oleh: Alina Simokar

Pada tanggal 9-13 Februari 2026, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Workshop IUCN Green Status of Species Assessment yang diselenggarakan di IPB University Kampus Baranangsiang, Bogor. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian pelatihan yang telah dilaksanakan secara daring pada Oktober hingga November 2025.

Apa itu IUCN Green Status of Species?

Sebagian dari kita mungkin sudah familiar dengan IUCN Red List of Threatened Species, acuan untuk menilai tingkat risiko kepunahan suatu spesies. Namun, sejauh mana spesies tersebut benar-benar pulih, serta bagaimana dampak dari upaya konservasi terhadap pemulihan tersebut?

Pertanyaan tersebut dijawab melalui IUCN Green Status of Species. Framework ini mengukur tingkat pemulihan spesies sekaligus kontribusi upaya konservasi terhadap proses tersebut. Jika Red List berfokus pada risiko kepunahan, Green Status berperan sebagai komplementer yang berfokus pada tingkat pemulihan. Oleh karena itu, hasil Green Status perlu diinterpretasikan dengan mempertimbangkan kategori Red List suatu spesies.

Secara garis besar, penilaian Green Status of Species terbagi menjadi dua, yaitu mendefinisikan keadaan fully recovered (pulih sepenuhnya) serta menilai kondisi suatu spesies terhadap keadaan tersebut dalam rangka mengevaluasi dampak dari upaya konservasi. Skenario yang digunakan dalam pengukuran dampak konservasi terdiri dari masa lalu (past), saat ini (current), masa depan (future), serta masa depan tanpa konservasi (future without conservation).

Kegiatan Indonesia GSS Workshop

Training Refresher and Assessment Practice

Pada hari pertama, kegiatan dibuka dengan sambutan sekaligus penjelasan singkat mengenai tujuan dan tahapan asesmen Green Status of Species. Sesi kemudian dilanjutkan dengan training refresher untuk menegaskan kembali materi yang telah disampaikan selama sesi pelatihan daring. Kemudian, sesi dilanjutkan dengan berlatih melakukan asesmen spesies harimau sumatra secara bersama-sama menggunakan tools yang disediakan.

Assessment Session

Pada sesi asesmen hari pertama, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan taksa: mamalia, herpetofauna dan ikan, burung dan serangga, serta tumbuhan. Kelompok mamalia melanjutkan proses asesmen yang telah dilakukan sebelumnya. Setelah itu, kami melanjutkan sesi asesmen dengan spesies monyet. Keberjalanan diskusi asesmen spesies monyet menjadi menarik ketika salah satu spesies dengan status endangered secara global menurut IUCN, justru kerap dianggap hama di berbagai wilayah Indonesia karena sering memasuki permukiman, perkebunan, bahkan berinteraksi secara agresif dengan manusia. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa status keterancaman global tidak selalu sejalan dengan dinamika populasi di tingkat nasional. Dalam konteks Green Status, jumlah populasi yang terlalu tinggi di suatu area tertentu akan menyebabkan suatu spesies tidak dapat melaksanakan perannya secara fungsional di ekosistem. Oleh karena itu, upaya konservasi perlu dirancang secara tepat, tidak hanya untuk mencegah kepunahan, tetapi juga untuk memastikan spesies berada pada kondisi yang fungsional di habitatnya.

Setelah berlatih dalam kelompok besar, kami melanjutkan proses asesmen, baik dalam kelompok yang lebih kecil ataupun secara individu. Tantangan mulai terasa dalam proses penentuan unit spasial, yang merupakan tahapan penting dalam asesmen Green Status of Species. Keterbatasan data dan riset yang telah dilakukan di Indonesia sangat berpengaruh dalam proses asesmen. Hal tersebut kembali menjadi pengingat mengenai pentingnya pengumpulan dan pengelolaan informasi setiap spesies di Indonesia.

Setiap hari, kegiatan ditutup dengan sesi wrap up untuk membahas progress asesmen, kendala yang ditemui, hingga hal menarik yang muncul selama diskusi. Ada satu kebiasaan kecil yang membuat suasana menjadi hangat. Setiap kali suatu kelompok kecil menyelesaikan asesmen suatu spesies, mereka akan bertepuk tangan, yang kemudian akan disambut oleh kelompok lainnya sebagai bentuk apresiasi dan semangat. 

Visit to Bogor Botanical Garden

Sebagai salah satu pengisi di antara rangkaian kegiatan asesmen, kami berkesempatan untuk berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Kunjungan singkat ini dilakukan pada hari kedua kegiatan. Kami berkeliling untuk melihat bunga Amorphophallus titanum, tidak lupa kami juga membicarakan burung, capung, dan monyet ekor panjang yang kami jumpai hahaha. Kunjungan kecil ini ditemani penjelasan dari Mas Rio, yang seketika menjadi tour guide dadakan terutama saat berada di rumah anggrek. Meskipun singkat, kunjungan tersebut berlangsung seru dan menyenangkan.

Saya sangat senang berkesempatan untuk mengikuti kegiatan workshop ini, yang ternyata juga merupakan Workshop IUCN GSS Assessment skala nasional pertama kali di dunia! Melalui kegiatan ini, saya tidak hanya belajar mengenai tahapan teknis sebuah asesmen, tetapi juga berkenalan dengan para konservasionis dan berbagi cerita konservasi di lapangan, dari pulau-pulau yang belum pernah saya datangi hingga spesies-spesies yang menyimpan ceritanya masing-masing. Terima kasih kepada IUCN SSC Indonesia Specialist Group untuk acara yang luar biasa. Terima kasih kepada bapak, ibu, dan kakak-kakak yang telah membagikan ilmu dan pengalaman yang berharga. Semoga melalui IUCN GSS di Indonesia, upaya dan semangat konservasi akan terus tumbuh di setiap generasi untuk masa depan biodiversitas di negeri kita.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *