• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
“Konservasi di Persimpangan: Primata, Masyarakat, dan Peran Generasi Muda” Memahami Peran Pemuda Pemudi bagi Konservasi Primata Indonesia

“Konservasi di Persimpangan: Primata, Masyarakat, dan Peran Generasi Muda” Memahami Peran Pemuda Pemudi bagi Konservasi Primata Indonesia

Narasi : Jasmine Alimah Savitri

Pada 15 Mei 2026 lalu, saya bersama Kak Rahayu berkesempatan untuk pergi ke Universitas Udayana Kampus Sudirman untuk menghadiri acara Seminar Nasional Rothschildi 2026 bertemakan “Swinging Through The Jungle: Veterinary Action on The Future of Primate Health”. Acara ini diselenggarakan oleh Minat Profesi Satwa Liar “Rothschildi” Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

Seminar Nasional yang dihadiri oleh 181 orang peserta, menghadirkan empat narasumber yang membawakan topik berbeda: 1) Dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes. – Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Bali, 2) Rahayu Oktaviani, S.Hut., M.Sc. – Direktur Yayasan KIARA, 3) Dr. Drh. Ligaya Ita Tumbelaka, Sp.MP., M.Sc. ️- Ahli Reproduksi dan Endokrinologi Hewan, dan 4) drh. Sri Kayati Widyastuti, M.Si. – Udayana University Primate Research Center.

Di seminar ini, Kak Ayu selaku narasumber membawakan presentasi berjudul “Konservasi di Persimpangan: Primata, Masyarakat, dan Peran Generasi Muda”. Di sesi ini menyoroti fakta bahwa meskipun Indonesia menjadi rumah bagi beragamnya spesies primata namun masih memiliki ancaman nyata terhadap primata, yaitu fragmentasi habitat, konflik manusia & primata (non-human), perubahan iklim, dan ekstraksi (perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan ilegal).

Berbicara mengenai ancaman tentu saja berhubungan dengan status keterancaman satwa tersebut. Secara global,  terdapat standar global penilaian risiko kepunahan bernama International Union for Conservation of Nature’s Red List of Threatened Species (IUCN Red List of Threatened Species). Atau Daftar Merah Spesies Terancam IUCN.  Standar ini menjadi acuan yang bermanfaat bagi pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), praktisi, akademisi maupun mahasiswa. Di Indonesia sendiri, telah dibentuk pula wadah dan yang menjadi perpanjangan tangan dari IUCN Global yang mewadahi para ahli dan praktisi konservasi Indonesia bernama IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group (IdSSG). IdSSG ini memiliki kegiatan utama diantaranya mengembangkan dan memperbarui Daftar Merah Nasional, yang berpotensi menjadi fondasi bagi kebijakan konservasi nasional yang kredibel. Terkait primata, saat ini sudah terpublikasi Kajian Daftar Merah Nasional (National Red List Assesment (NRLA))untuk spesies monyet (genus Macaca) yang tersebar di Indonesia. Kabar baiknya, NRLA mengenai spesies owa dan siamang/ kera kecil sudah dilaksanakan pada 30 Maret-3 April 2026 lalu.

Kembali ke topik presentasi, upaya konservasi sendiri membutuhkan banyak peran dan kontribusi dari manusia. Apa yang bisa generasi muda kontribusikan untuk konservasi terutama konservasi primata? Dari peran-peran yang tersedia untuk konsevasi primata, kita sebagai generasi muda punya potensi besar untuk dapat terlibat. Sebagai contoh, terlibat dalam riset insitu (monitoring populasi primata liar), magang atau menjadi relawan lapangan di lembaga eksitu (penangkaran, rehabilitasi), atau juga memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan awareness. Kita juga bisa belajar lebih mengenal alam di sekitar kita, ada spesies satwa/tumbuhan apa saja, dari sana akan muncul keingintahuan lebih mendalam dan munculah rasa empati yang menjadi awal upaya konservasi. Atau kita juga bisa lebih mengenal masyarakat sekitar, karena kembali lagi konservasi tidak terlepas dari unsur manusia dan bersama masyarakat kita dapat membangun komunikasi dan kerjasama berkelanjutan.

Terima kasih kepada Minat Profesi Satwa Liar “Rothschildi” Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Udayana atas kolaborasinya.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *