• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Ketika Konservasi Bertemu Dengan Pengetahuan Lokal

Ketika Konservasi Bertemu Dengan Pengetahuan Lokal

Narasi oleh: Nur Azzizah Firdaus

Hallo #kawankiara

Pada Sabtu, 4 Juli 2026, saya berkesempatan menghadiri undangan dari kegiatan Launching Mini Seri Dokumenter “Tales of Belonging” di Museum MACAN, Jakarta Barat. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Rekam Nusantara Foundation, melalui unit film INFIS (Indonesia Nature Film Society) dan berkolaborasi dengan Yayasan HaKa.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai karya yang mengangkat isu lingkungan dan hubungan manusia dengan alam, rangkaian acara tersebut juga diisi dengan sebuah talkshow yang membahas Lanskap Leuser sebagai salah satu bentang alam terpenting di Indonesia yang menjadi rumah bagi beragam satwa endemik sekaligus ruang hidup masyarakat di sekitarnya.

Sejak sesi dimulai, para narasumber (Kak Raisa Kamila dan Kak Titah AW) mengajak kita untuk melihat Leuser dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini, Leuser sering dikenal sebagai kawasan konservasi yang menjadi habitat orangutan, harimau, gajah, dan badak Sumatra. Namun, melalui pengalaman lapangan dan proses liputan yang mereka lakukan, Leuser digambarkan sebagai sebuah lanskap hidup yang tidak hanya dihuni oleh satwa liar, tetapi juga oleh masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan alam.

Salah satu cerita yang paling menarik adalah perjalanan menyusuri Leuser dari wilayah hilir menuju hulu. Para narasumber menceritakan bagaimana warna air sungai berubah secara perlahan, dari keruh di bagian hilir hingga menjadi sangat jernih di kawasan hulu. Perubahan tersebut bukan hanya menunjukkan kondisi alam yang berbeda, tetapi juga menjadi gambaran mengenai besarnya pengaruh aktivitas manusia terhadap kualitas lingkungan.

Diskusi kemudian berlanjut pada berbagai tantangan yang dihadapi Leuser saat ini. Salah satunya adalah perubahan bentang alam akibat peralihan lahan dari tanaman nilam menjadi perkebunan sawit. Ketidakstabilan harga nilam membuat banyak masyarakat memilih sawit sebagai sumber penghidupan. Di sisi lain, ekspansi perkebunan maupun aktivitas pertambangan memberikan tekanan yang semakin besar terhadap kelestarian hutan. Para narasumber juga menyoroti bagaimana izin-izin eksploitasi masih terus diberikan meskipun bencana ekologis telah berulang kali terjadi, salah satunya bencana Sumatra yang terjadi pada bulan November 2025.

Hal yang paling membekas bagi saya justru ketika pembahasan beralih pada hubungan masyarakat dengan alam. Talkshow ini menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya berbicara mengenai perlindungan satwa atau kawasan hutan, tetapi juga tentang menjaga pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat. Banyak komunitas di sekitar Leuser yang masih mampu membaca musim melalui tanda-tanda alam, mengenali waktu tanam dari pergerakan bintang, hingga menjalankan tradisi yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Para narasumber juga mengkritisi pendekatan konservasi yang sering kali bersifat satu arah. Menurut mereka, masyarakat lokal bukanlah objek yang harus selalu diatur, melainkan pemilik pengetahuan yang telah menjaga lanskap tersebut jauh sebelum berbagai kebijakan konservasi hadir. Oleh karena itu, pengetahuan lokal seharusnya menjadi bagian penting dalam penyusunan kebijakan maupun praktik konservasi.

Salah satu pesan yang paling saya ingat dari talkshow ini adalah bahwa hilangnya hutan bukan hanya berarti hilangnya pohon atau satwa liar, tetapi juga hilangnya pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika hutan rusak, cara masyarakat membaca musim, memahami sungai, mengenali satwa, hingga menjalankan tradisi perlahan juga ikut menghilang.

Menjelang akhir diskusi, para narasumber membagikan kisah dari anak-anak muda di Manggamat yang mengatakan bahwa mereka tidak lagi bermimpi dapat menyelamatkan seluruh hutan. Yang dapat mereka lakukan hanyalah menunda kehancuran selama mungkin. Kalimat sederhana tersebut menjadi penutup yang begitu mengena, sekaligus mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi persoalan masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi banyak masyarakat saat ini.

Selanjutnya, ke sesi pemutaran enam film pendek yang masing-masing mengangkat cerita mengenai hubungan manusia dengan alam, satwa liar, serta berbagai dinamika yang terjadi di Lanskap Leuser. Melalui film, kita diajak melihat realitas yang dialami masyarakat, tantangan konservasi, hingga pentingnya menjaga ekosistem yang menjadi rumah bagi beragam makhluk hidup. Setiap film menghadirkan perspektif yang berbeda, sehingga memberikan gambaran bahwa konservasi bukan hanya persoalan melindungi satwa, tetapi juga menjaga ruang hidup dan keberlangsungan kehidupan manusia.

Setelah sesi pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan photo tour bersama Kak Yoppy Pieter, salah satu fotografer yang karyanya dipamerkan dalam pameran tersebut. Pada sesi ini, beliau mengajak kita berkeliling sambil menjelaskan cerita di balik beberapa karya fotonya. Menariknya, setiap foto tidak hanya menampilkan keindahan satwa atau bentang alam, tetapi juga dipadukan dengan unsur kaligrafi yang menjadi bagian dari karya visual tersebut. Kak Yoppy Pieter menunjukkan bagaimana bentuk, lekuk, dan goresan kaligrafi. Kaligrafi tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan makna, filosofi, dan hubungan antara manusia dengan alam.

Mengikuti kegiatan di Museum Macan pada hari itu memberikan perspektif baru bagi saya mengenai makna konservasi. Leuser bukan sekadar kawasan yang menyimpan keanekaragaman hayati, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan sejarah, budaya, pengetahuan, dan identitas masyarakat. Melindungi Leuser berarti menjaga seluruh jaringan kehidupan yang saling terhubung di dalamnya, baik manusia, satwa, maupun alam itu sendiri.

Terima kasih Rekam Nusantara Foundation, INFIS, dan Yayasan HaKa atas undangannya.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *