
Perjalanan Jauh Menyusuri Hutan Demi Bertemu Keluarga Owa
Ditulis oleh: Alifah sari
Salam Konservasi!! Lestari!!
Sebelum memulai bercerita mengenai kegiatan Praktek Kerja dan Magang Kehutanan di Yayasan Kiara ini, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Alifah Sari biasa dipanggil Alifah oleh temen – temen disini, Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan, saya berasal dari Kota Kuda yaitu Kuningan, Jawa Barat.

Memasuki semester tujuh, mahasiswa di fakultas kami berlomba – lomba mencari tempat untuk melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Luasnya bidang yang digeluti pada saat melaksanakan pembelajaran di kampus, kami memantapkan hati pada berbagai pilihan untuk pelaksanaan PKL ini ada yang memilih di Perusahaan, Taman Nasional, BKSDA, dan ada pula yang memilih di NGO salah satunya saya. NGO yang saya pilih yaitu Yayasan KIARA yang bergerak dalam pelestarian Owa Jawa dan mengoperasikan Javan Gibbon Research And Conservation Project (JGRCP).
Banyak yang bertanya “kok bisa tahu KIARA/JGRCP, tahu darimana?”, sebenarnya awal tahu ini dari hasil bertanya dengan Kakak Tingkat di Fakultas yang sebelumnya pernah ikut berkegiatan dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Ketertarikan pada Dunia konservasi yang membawa saya menetapkan hati ditambah lagi saya belum pernah bertemu dengan Owa Jawa sebelumnya karena tidak ada di wilayah kami Owa Jawa yang ada hanya Surili, Lutung, maupun Monyet Ekor Panjang.
Sebelum melaksanakan PKL ternyata sudah mendapatkan tantangan yaitu hanya diizinkan satu orang yang bisa PKL di KIARA/JGRCP karena keterbatasan sarana akomodasi, dan sudah ada dua mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tengah melaksanakan kegiatan PKL juga. Kenapa bisa disebut tantangan? karena saya belum pernah berkegiatan sendirian sebelumnya apalagi jarak antara rumah dan tempat PKL yang jauh. Hehehe.
Kegiatan PKL yang saya laksanakan selama 28 hari dimulai pada tanggal 8 Februari – 7 Maret 2022. Saya berangkat pada tanggal 07 Februari 2022 setelah Adzan Subuh dengan keadaan hujan saat itu dan diantar oleh orang tua. Perjalanan yang amat panjang dan melelahkan karena jalur yang sangat tidak terbayang sebelumnya, dengan jalan berbatu serta banyaknya lubang. Sepanjang jalan menuju Citalahab Central disuguhi dengan pemandangan yang indah, sehingga lelah diperjalanan terbayar oleh keindahan sepanjang jalan. Sampai di Citalahab Sentral kami sudah ditunggu oleh tim lapang untuk meminta izin berkegiatan kepada Ketua RT di Citalahab Central.



Pada Hari Pertama saya tidak langsung menuju Hutan Halimun akan tetapi bersilaturahmi dulu kepada Kepala Resort Cikaniki akan tetapi saat diperjalaan kami malah bertemu dengan Kepala Resort tersebut yang akan mengantarkan Mahasiswa IPB ketempat Praktek sehingga silaturahmi kami dilakukan di jalan, hehehe. Saat bertemu Pak Arsa selaku Kepala Resort Cikaniki berjanji akan datang ke Rumah Owa setelah selesai berkegiatan dengan Mahasiswa IPB dan benar saja saat kami selesai melaksanakan makan malam Pa Arsa dan rombongan datang ke Rumah Owa, maka disitulah saya berdiskusi dengan Pak Arsa.
Nah ini dia hari dimana saya pertama kali menginjakkan kaki di Hutan Halimun bersama dengan para asisten lapangan: Kang Nuy, Kang Nandar, Kang Indra, dan Kang Alan serta dua mahasiswa magang lainnya. Pertama kali keluar dari Rumah Owa para Asisten Lapangan sudah mengaktifkan GPS yang mereka bawa masing – masing. Karena ini pertama kali saya ikut ke lapangan maka mengikuti arahan dari para asisten harus mengikuti siapa dan hari itu saya bersama dengan Kang Indra. Kelompok saat itu yang akan diikuti yaitu Kelompok B yang beranggotakan Kumis (jantan dewasa), Kety (betina dewasa), Komeng (anak dewasa), dan Kendeng (anak remaja).
Di sepanjang jalan mendengar para asisten bersahutan menggunakan HT yang mereka bawa, awalnya berpikir lagi apa mereka karena yang bicarakan pasti ada saja kata kata “masih… sepi… sepi…sepi” sampai akhirnya setelah mengamati dan mendengarkan ternyata mereka saling memberi informasi mengenai kondisi yang sedang dilalui. Setelah berjalan lumayan jauh Kang Indra menemukan satu Owa Jawa. Hal pertama yang dilakukan oleh saya mencari Owa Jawanya karena tidak terlihat padahal para asisten sudah melihatnya “ada nggak? Tuh sebelah sana tertutup ranting” Kata Kang Nuy yang mencoba memberitahu saya keberadaan Owa Jawa, akhirnya terlihat saat Owanya loncat pindah tempat, heheeh. Setelah didekati ternyata ada tiga Owa Jawa yang terlihat yaitu Kumis, Kety, dan Kendeng, lalu Kang Nuy dan Kang Indra memanggil para asisten yang lain untuk berkumpul di titik yang ada Owa Jawanya. Saat mengikuti Owa Jawa dengan medan yang lumayan ekstrim menurut saya maka dapat dipastikan saya mengalami insiden yaitu jatuh dan itu berulang kali, hehehe. Pada hari itu pengamatan dilakukan sampai Owa Jawa menemukan pohon tidur.

Di lain hari, dengan tim yang sama akan tetapi medan yang berbeda karena di hari ini pengamatan di lakukan pada kelompok S. Jalur yang menurut saya paling ekstrim dan sulit dilalui karena baru keluar dari Rumah Owa saja sudah harus melewati sungai yang dalamnya hampir melewati garis sepatu boots serta melewati “galengan” sawah yang amat sangat kecil jalannya, untungnya berkat bantuan para asisten saya bisa melewati itu, hehehe. Di hari ini pengamatan dilakukan sampai pohon tidur. Yeyyy sangat senang.
Di hari berikutnya dan pengalaman baru lagi yang saya dapatkan yaitu pengamatan dimulai dari pohon tidur yang otomatis berangkat harus lebih pagi lagi dengan medan yang begitu sulit. “Tenang aja jalannya, yang penting udah ada yang duluan” Kata Kang Nandar karena melihat saya yang jalannya lambat karena kecapean padahal itu masih pagi dan untungnya saat kami sampai Owanya masih ada di pohon tidur. Dihari itu pengamatan hanya dilakukan sampai siang hari dikarenakan Owa masuk ke wilayah yang cukup sulit diikuti sehingga tidak bisa untuk dikejar.
Selain kegiatan pengamatan Owa Jawa, ternyata ada pula pengambilan data mengenai Fenologi pohon yang diamatinya berupa buah, daun, bunga, serta pengukuran diameter pohon. Saat melakukan Fenologi bersama tim berbeda dengan sebelumnya yang beranggotakan Kang Isra, Kang Alan, Kang Azis, dan Kang Nuy. Hari pertama pengukuran saya bersama Kang Nuy dan Kang Azis di Kelompok A dan hari Kedua bersama Kang Isra dan Kang Alan di kelompok B. Pengukuran dilakukan cukup cepat karena kurang lebih jam 10.00 WIB kami sudah kembali ke Rumah Owa.



Adapula kegiatan yang tidak harus memasuki Hutan Halimun yaitu kegiatan Pendidikan Konservasi yang dilakukan setiap hari Sabtu. Pendidikan Konservasi ini menjadikan pengalaman pertama saya dalam mengajar anak – anak sekolah dasar dan saya sangat bersyukur karena anak – anak di Citalahab Central sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran sehingga tidak menyulitkan saya dalam menyampaikan materi yang diberikan. Saat pertama kali ketemu mereka yang sangat ceria “kakak dari mana?” adapula yang bertanya “kakak bisa Bahasa Sunda” hahha mereka sangat lucu. Tiga kali saya bertemu dengan mereka dalam rangka Pendidikan Konservasi akan tetapi mereka suka menemani saya kalau sendirian di Rumah Owa walaupun tidak di dalam rangkaian Pendidikan konservasi. Jadi rindu mereka.



Satu lagi kegiatan yang saya ikuti selama PKL yaitu pembuatan Ecoprint bersama Ambu Halimun, itu pula menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan tersebut. Saya sangat salut kepada para Ambu Halimun yang mempunyai semangat tinggi untuk membuat Ecoprint serta mencari bahan – bahan sebelum pembuatannya. Dan jangan lupa belajar Bahasa Inggris bersama Ambu Halimun, amat sangat seru dan bangga bisa ikut serta.


Sudah terlalu panjang saya bercerita mengenai pengalaman saya selama Kegiatan PKL ini, kalau diceritakan semua pasti akan berjilid -jilid, hehehe. Sebelum saya mengakhiri cerita ini, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk Bu Ayu, Ka Zia, Kang Nuy, Kang Nandar, Kang Isra, Kang Indra, Kang Alan, Kang Azis, dan Kang Apud yang telah membantu saya dalam pelaksanaan kegiatan PKL ini, serta tidak lupa juga ucapan terima kasih kepada masyarakat Citalahab Central yang telah menerima saya sebagai warga sana selama satu bulan lamanya, khusus untuk Umi Amot yang selalu menjadi penyelamat saat lapar serta Umi Ami yang suka memberi saya pisang goreng dan pernah menampung saya tidur karena sedang mati listrik saat itu.
Saya akhiri bercerita kali ini, terima kasih yang sudah membaca.
Salam Konservasi!! Lestari!!

Asik, Saya merasa ada di tempat ini, pas baca ceritanya, karena waktu yang sama kita pklnya. Tapi kami rombongan dari IPB dan teman-teman dari SMK Bakti Rimba Bogor, tinggalnya di Kator Resort Cikaniki, TNGHS.
Sukses terus kak! Terima kasih atas kunjungannya 🙂