
Pramuka Penggalang Peduli Hutan dan Owa Jawa
Narasi oleh: Nur Azzizah Firdaus dan Siti Hajar Hijriyah (Tiwi)
Hallo #kawankiara, kembali lagi ke cerita edukasi yang menyenangkan! Pada hari Selasa, 11 Agustus 2026 tim edukasi KIARA pergi ke Kabupaten Sukabumi untuk hadir dalam undangan kegiatan HUT Gerakan Pramuka ke-65 ‘Lintas Alam Penggalang se-Desa Cihamerang’. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia Lintas Alam Ranting Cihamerang di SDN 2 Pameungpeuk. Panitia kegiatan mengundang Yayasan KIARA melalui Pak Asep, salah satu guru yang terlibat dalam lokakarya bagi guru yang dilaksanakan KIARA pada Januari 2026 untuk berbagi informasi tentang owa jawa.
Kegiatan pramuka ini diikuti oleh 124 orang dari siswa/i dari 7 sekolah di Kecamatan Kabandungan – Kab. Sukabumi, yaitu: SDN 1 Pameungpeuk, SDN 2 Pameungpeuk, SDN Pasir Haur, SDN Giri Mukti, SDN Cihamerang, MI An-Nur Adzikro, dan MTs Nurul Janah).
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, tim edukasi dibantu oleh Tiwi (mahasiswa magang SOMPO NGO Learning Batch VII dan Kak Devi serta Kak Robi dari Yayasan Aksara Aksi yang merupakan lembaga lokal pendampingan petani dan masyarakat di area Cipeuteuy. Kehadiran teman-teman ini tentunya membuat kegiatan menjadi lebih seruuu dan ramaiiiii.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi kami dalam menyampaikan pesan konservasi kepada anggota Pramuka Penggalang untuk berbagi pengetahuan mengenai hutan dan owa jawa sebagai kera kecil endemik Pulau Jawa. Selain itu, juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang KIARA dalam membangun kesadaran lingkungan di tingkat komunitas lokal wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Suasana sangat ramai karena jumlah anak-anak banyakdan tentunya mereka nggak sabar untuk belajar hal baru. Kegiatan diawali dengan mengisi lembar pre-test yang dibagikan. Setelah itu, masuk ke sesi pematerian oleh Kak Amin mengenai hutan dan owa jawa, mulai dari hutan yang tidak asing karena keberadaanya di dekat tempat tinggal mereka, lalu mengenal owa jawa dari ciri-cirinya, habitat, dan pentingnya menjaga kelestariannya.
Pengetahuan tentang hutan ternyata bukan sesuatu yang benar-benar asing bagi mereka. Kegiatan lintas alam dan keberadaan hutan di sekitar tempat mereka menjadi pintu masuk yang menyenangkan untuk mengenal lebih jauh tentang pentingnya menjaga hutan dan satwa yang hidup di dalamnya.

Banyak hal yang berkesan dalam kegiatan ini, salah satunya adalah semangat anak-anak saat mengikuti sesi pematerian, mereka terlihat antusias mendengarkan, aktif menjawab pertanyaan, dan terlihat penasaran ketika diajak mengenal owa jawa yang mungkin selama ini belum mereka ketahui lebih banyak informasinya.
Materi yang disampaikan berhasil memancing rasa penasaran dan mengajak anak-anak untuk mengenal owa jawalebih jauh melalui sesi tanya jawab. Al Gustian, salah satu anak dari SDN Cihamerang yang berani mengangkat tangan dan bertanya, “Owa Jawa dilahirkannya dimana kak?”
Kak Amin menjawab, “Oke menarik sekali, apakah owa jawa kalau mau melahirkan turun ke bawah? Tidak ya, owa jawa jarang turun ke tanah karena di bawah sana terdapat ancaman dari macan tutul yang merupakan salah satu predatornya. Setelah lahir, bayi owa jawa akan terus menempel erat dan sangat bergantung pada induknya selama kurang lebih dua tahun, mirip seperti manusia ya”.
Belum selesai rasa ingin tahu anak-anak, Satria dari SDN Cihamerang ikut menambahkan pertanyaan, “Berapa lama owa jawa bisa hidup, Kak?”
“Wah, pertanyaan yang bagus! Owa jawa dapat hidup sekitar 20-30 tahun. Nah, ketika kita menjaga hutan, kita bukan hanya sedang menjaga rumah owa jawa, tetapi juga membantu memastikan owa jawa untuk tetap hidup dalam umur panjang.” Jawab Kak Amin.
Tidak kalah seru dari sesi tanya jawab, Keisya dari SDN 2 Pameungpeuk mengajukan diri untuk menyebutkan pakan owa jawa, seperti Cecer monteng, bunga, dan Ficus.
Suasana semakin meriah ketika anak-anak bersama bernyanyi “Jingle Owa Jawa” yang membuat anak-anak semakin mengenal owa jawa. Di akhir sesi interaksi, Rifani dari MI An-Nur Adzikro, dengan antusias menyampaikan harapan untuk owa jawa “Semoga owa jawa bisa tetap hidup di hutan yang bersih, terjaga, dan habitatnya tidak kotor.”
Dari pertanyaan sederhana dan harapan anak-anak tentang kehidupan owa jawa, mereka belajar bahwa menjaga owa jawa berarti juga menjaga hutan sebagai rumahnya, begitupun sebaliknya.

Sebelum kegiatan ditutup, anak-anakmengerjakan post-test. Pertanyaan yang sebelumnya mungkin terasa membingungkan, kini kembali mereka hadapi dengan lebih percaya diri. Selain itu, anak-anak juga menuliskan hal baru apa yang sudah mereka pelajari dan pesan untuk owa jawa. Banyak dari mereka yang menjelaskan mengenai pengetahuan umum tentang owa jawa, seperti jenis pakan yang dimakan, rentang usia hidup, hingga perannya sebagai petani hutan. Selain itu, kegiatan ini juga menyentuh empati anak-anak melalui pesan yang mereka tuliskan untuk owa jawa terkait salah satu ancamannya, yaitu risiko tersengat listrik saat satwa ini melintasi kabel yang berdekatan dengan tepi hutan atau permukiman.
Setelah kegiatan, kami berkesempatan berbincang bersama para guru dari setiap perwakilan sekolah. Dalam percakapan tersebut, bapak dan ibu guru berharap agar kedepannya kegiatan serupa dapat kembali hadir di sekolah-sekolah mereka. Para guru juga menerima poster mengenai owa jawa untuk dibawa pulang ke sekolah. Poster tersebut diharapkan dapat menjadi media pengenalan owa jawa bagi anak-anak lainnya di sekolah masing-masing.
Gerakan Pramuka Indonesia memiliki peran penting dalam upaya pelestarian lingkungan hidup melalui pendidikan karakter dan kegiatan lapangan. Dari kegiatan lapangan seperti lintas alam ini, kami kembali belajar bahwa mengenalkan hutan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari pertanyaan sederhana, cerita tentang hutan dan owa jawa, hingga harapan yang disampaikan anak-anak, semuanya menjadi langkah kecil untuk mengenalkan bahwa hutan bukan sekedar tempat yang mereka lewati saat lintas alam, tetapi rumah bagi satwa liar termasuk owa jawa yang perlu dijaga bersama. Harapannya, dari pertemuan singkat ini menjadi awal dari lebih banyak cerita, lebih banyak rasa ingin tahu, dan lebih banyak upaya untuk menjaga hutan dan owa jawa bersama anak-anak.

Terima kasih bapak/ibu guru dan panitia pelaksana yang telah memberikan kesempatan untuk kami bisa hadir dalam kegiatan ini! Semoga ilmu yang diberikan bermanfaat.