
Menjaga “Alunan Fajar Penyambut Sang Surya” Satwa Kunci Owa Jawa di Hamparan Gunung Kendeng, TNGHS
Narasi oleh: M. Haikal Ilham Gunawan
Jika kita beruntung melintasi landscape Resor Gunung Kendeng di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), serentak akan disambut oleh alunan suara yang magis. Itulah morning call nyanyian fajar khas Owa Jawa (Hylobates moloch). Primata endemik berstatus terancam punah (Endangered) ini bernyanyi untuk menyapa pagi sekaligus menegaskan batas wilayah teritorinya.

Sebuah kabar baik sekaligus data penting berhasil dihimpun dari balik kabut dan dinginnya udara Kecamatan Kabandungan. Berdasarkan survei lapangan intensif yang dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2026 dengan menggunakan metode triangulasi (vocal point count), tim survei bergerak menembus bentang alam yang curam demi memetakan populasi sang primata kunci wilayah tersebut.

Akurasi data ini terhimpun dari kompleksitas formasi tim di lapangan. Pada setiap titik dengar (listening post), tim lapangan diturunkan secara terkoordinasi dengan komposisi: satu orang tim survei (expert), satu orang petugas resmi TNGHS yang kali ini diwakili oleh tim Resor Gunung Kendeng, dan satu orang pemandu lokal yang memahami medan di lapangan. Dengan formasi total enam orang pengamat yang bekerja secara intensif menggunakan metode triangulasi (vocal point count), tim survei berhasil meminimalkan kesalahan hitung dan mencatat dinamika sesungguhnya dari rimbunnya kanopi hutan sebagai relung hidup bagi owa jawa.

“Ketika kabut pagi tersingkap dan sahutan owa pertama terdengar, ada rasa lega yang luar biasa. Suara mereka melintasi lembah, saling bersahutan membelah kesunyian hutan alam. Ini bukti nyata bahwa di tengah tekanan luar, jantung Gunung Kendeng masih berdenyut,” ujar salah satu tim survei dengan penuh haru saat mencatat arah kompas di lembar data penelitian.
Riuh Rendah Kehidupan di Balik Kanopi

Keberadaan owa jawa yang melimpah menjadi indikator kuat bahwa ekosistem Resor Gunung Kendeng masih bekerja secara luar biasa. Selama kurang lebih 35 hari operasional di lapangan, tim tidak hanya berfokus pada suara owa, tetapi juga menjumpai kekayaan hayati lain yang hidup berdampingan (simpatrik) di berbagai strata hutan.


Di atas tajuk, owa jawa harus berbagi ruang dan bersaing berebut pakan dengan primata pemakan daun (folivore), seperti surili (Presbytis comata) yang berambut abu-abu jambul dan lutung jawa barat (Trachypithecus auratus) yang hitam legam. Di sela-sela pohon, kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sesekali melintas berisik.
Kehidupan di lantai hutan pun tidak kalah mengagumkan. Tim mengonfirmasi kehadiran babi hutan (Sus scrofa) dan puyuh gonggong (Arborophila javanica) yang sibuk mengais serasah tebal, serta pergerakan ayam hutan hijau (Gallus varius) yang membuat riuh semak-semak bawah lantai hutan. Di udara, elang ular bido (Spilornis cheela) tampak gagah mengintai dari pohon-pohon tertinggi. Bahkan, rantai makanan puncak terbukti masih utuh dengan terkonfirmasinya perjumpaan langsung anak macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Kehadiran sang apex predator ini menandakan keberadaan satwa mangsa di lantai hutan.
Menatap Ancaman Nyata di Lapangan
Sayangnya, keindahan alamiah ini dihantui oleh ancaman destruktif. Tepat di perbatasan kawasan, operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) terus menyemburkan polusi suara konstan. Kebisingan industri ini terdengar jelas hingga ke dalam jantung hutan, mengaburkan alunan suara khas owa jawa dan berpotensi membuat primata ini stres karena kesulitan berkomunikasi dengan kelompoknya.
Tekanan lebih berat justru ditemukan langsung oleh tim di dalam kawasan hutan. Di beberapa titik, hutan alam mulai terkikis akibat pembukaan lahan baru secara masif untuk perkebunan masyarakat. Aktivitas warga yang masuk mencari pakan ternak (ngarit) lambat laun mengikis vegetasi bawah. Lebih parah lagi, tim menemukan jejak hitam perburuan liar berupa tenda persembunyian (saung) pemburu serta sisa-sisa jerat. Perburuan satwa eksotis seperti burung, kupu-kupu, hingga kumbang dengan metode ngobor (perangkap cahaya) marak terjadi, sering kali dibarengi dengan penebangan vegetasi secara sembarangan yang memicu risiko erosi di lereng curam. Tantangan ekologis ini kian kompleks dengan merangseknya tanaman invasif asing seperti kaliandra merah (Calliandra calothyrsus) yang mulai mendominasi perbatasan dan menekan pertumbuhan pohon pakan asli hutan.



Dari seluruh temuan, ancaman fisik yang paling krusial saat ini adalah wacana pelegalitasan jalur mobilitas antropogenik ekstrem, seperti rute sepeda motor lintas alam (off-road) yang memotong hutan dari Desa Cihamerang menuju Kasepuhan Gelar Alam. Bagi manusia, jalan rintisan ini mungkin dianggap kemudahan akses. Namun bagi Owa Jawa yang 100% hidupnya bergantung pada kontinuitas kanopi pohon (arboreal), pembukaan jalan adalah vonis fragmentasi habitat.
“Uwek atanapi owa jawa hirup di luhur tangkal, manehna tara turun ka taneuh kecuali emang manehna butuh. Lamun tatangkalan di leuweung beak dituaran sanajan jang kabutuhan jalan raya jeung kamaslahatan warga, hal eta bakal ngajadikeun imah uwek ruksak jeung bakal nyebabkeun habitatna kapotong potong. Leuwih parah deui, ku ayana jalan alus bakal ngagampangkeun pemburu asup ka kawasan jang ngaruksak sagala rupa anu aya di jero leuweung.” artinya bahwa Owa jawa hidup di atas pohon, dia tidak pernah turun ke tanah kecuali kalau dia perlu. Kalau pepohonan di hutan habis ditebang, meskipun untuk kebutuhan jalan raya dan kemakmuran warga, hal tersebut akan membuat rumah owa rusak dan akan menyebabkan habitatnya terpotong potong. Lebih parah lagi, dengan adanya jalan yang bagus akan mempermudah pemburu untuk masuk ke kawasan dan merusak segala macam yang ada di dalam hutan.
Kalimat yang terlontar dari lisan seorang pemandu lokal yang setia menemani tim membuka jalur bukit yang terjal.
Saat kanopi langit terputus oleh jalan, Owa Jawa akan terisolasi di pulau-pulau vegetasi yang kecil. Hal ini memicu risiko perkawinan sedarah (inbreeding), kelaparan, dan mempermudah akses bagi para perambah hutan.

Oleh karena itu, penegakan hukum melalui patroli ketat, pelarangan total pembukaan jalur mobilitas baru, restorasi lahan terbuka, serta mitigasi kebisingan industri menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Menjaga Gunung Kendeng bukan lagi sekadar melindungi sebidang tanah, melainkan sebuah ikhtiar bersama agar nyanyian fajar Owa Jawa tidak lenyap ditelan ambisi egois manusia.