• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Sukadana: Pantai, Durian, dan Pelajaran tentang Memberi

Sukadana: Pantai, Durian, dan Pelajaran tentang Memberi

Narasi oleh: Amin Indra Wahyuni

Nggak kerasa tahun 2026 udah setengah jalan. Setelah sibuk persiapan dan pelaksanaan RASAMALA (Bersama Berkemah di Alam Raya) pada bulan Mei & Juni, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tanah Borneo di bulan Juli, it feels like a dream to be back there

Saya membersamai Kak Ayu dalam perjalanan itu, beliau diundang untuk melaksanakan Studi Banding menuju Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI), akronim yang represent berbagai programnya yang bertujuan untuk: mengintegrasikan pelayanan kesehatan dan pelestarian hutan dengan nilai konservasi tinggi untuk mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera, serta alam yang Lestari. Dalam kegiatan ini, hadir juga kak Farwiza Farhan yang kerap disapa kak Wiza, ketua Yayasan HAkA dan kak Nur Febriani Wardi, direktur kemitraan Yayasan ASRI. Sebuah kesempatan yang sangat baik untuk saya bisa belajar banyak dari para pemimpin perempuan ini.

Perjalanan diawali dengan naik pesawat baling-baling, kebetulan ada penerbangan langsung Jakarta-Ketapang. Udara panas Kalimantan Barat menyapa kami, kagok pisan rasanya. Kami disambut di Bandara Rahadi Oesman dan melanjutkan perjalanan selama dua jam hingga tiba di Pangkalan Buton, Kec. Sukadana, Kabupaten Kayong Utara di mana lokasi klinik dan kantor ASRI berada. Agenda di hari pertama adalah perkenalan organisasi, grogi sekali rasanya mengenalkan diri di depan para senior di bidang konservasi yang berada di ruangan yang sama dengan saya. 

Kami saling bertukar cerita tentang Yayasan ASRI, Yayasan HAkA, dan Yayasan KIARA. Tiga lembaga non-profit yang bergerak untuk alam. Yayasan ASRI menjalankan program-program planetary health dan mengembangkan metode Radical listening untuk bekerja di bidang reforestasi, kesehatan, mata pencaharian berkelanjutan, dan pendidikan dengan tujuan melindungi hutan dan memperkuat ketahanan masyarakat. Yayasan HAkA berfokus pada advokasi perlindungan kelestarian Kawasan Ekosistem Leuser dengan fokus kerja di Banda Aceh untuk melindungi hutan Aceh dan Ekosistem Leuser dengan keyakinan bahwa hutan yang lestari adalah kunci kesejahteraan manusia Aceh dalam jangka waktu yang panjang. Sementara Yayasan KIARA bekerja untuk melindungi owa jawa (Hylobates moloch) agar tetap lestari di habitatnya melalui tiga program utama; penelitian ekologi owa jawa dalam jangka panjang, pendidikan konservasi, dan pengembangan masyarakat. Sambil pringas-pringis, saya mencoba menjelaskan kesibukan saya di Yayasan KIARA sebagai staff edukasi & kampanye, tentang apa saja yang kami lakukan saat pelaksanaan edukasi langsung melalui program pendidikan konservasi dan juga kampanye sosial media yang juga kami laksanakan. Tak lupa, cerita tentang RASAMALA – hajat besar di bulan Juni, juga menyertai rentetan cerita itu. ASRI juga punya program edukasi, bahkan sudah terbentuk jaringan yang disebut ASRI-kids dan ASRI-teens yang aktif berkegiatan di sekitar kantor. Wah ide yang bagus untuk mengembangkan KIARA-friends.

Selain pengenalan organisasi, kami lanjut untuk tour ASRI, mulai dari; bagian optik, berlanjut ke area klinik, radiologi, laboratorium, pengelolaan limbah medis, pengelolaan air, hingga ke kasir dengan sistem pembayaran yang inklusif melalui program ‘opsi pembayaran non tunai’ (non cash payment option) dengan kerajinan tangan, bibit atau biji, dedak atau sekam, kotoran ternak, bahkan dengan tenaga. Masyarakat di sekitar area kerja ASRI juga memperoleh ‘ekostatus penghargaan kawasan’ di mana masyarakat dapat memperoleh potongan biaya saat berobat ke klinik saat di desa tersebut penduduk tidak melakukan penebangan atau pembakaran lahan di kawasan taman nasional. Potongan ini bisa bundling juga dengan opsi pembayaran non tunai. Saat kami tour ASRI, terdengar suara tangisan anak kecil yang sedang sunat, suara itu membuat saya mengingat lagi bahwa ASRI ini memang benar-benar menghubungkan kesehatan dan konservasi dalam program-programnya.  

Diskusi kami lanjutkan di pinggir Pantai Pulau Datuk. Di sanalah saya pertama kali terkesima dengan rasa durian lokal Sukadana yang gak ada lawan. Sambil menikmati semilir angin di pinggir pantai dan debur ombaknya, obrolan tetang kegiatan yang sedang kami lakukan di lembaga masing-masing pun tetap berlanjut.

Hari berganti di Sukadana, pagi kami disambut suara mendayu-dayu dari Hylobates albibarbis yang berasal dari belakang area asrama ASRI. Jendela lebar di kamar yang kami buka, menunjukkan barisan pohon yang menghiasi Gunung Palung. Kami mengenakan jaket lalu beranjak ke belakang asrama, mendekat ke suara owa & merekamnya. 

Waktu menunjukkan pukul 6.30 dan kami sudah bersiap berangkat ke Perupuk, salah satu area restorasi. Kami melakukan perjalanan darat lebih dulu, hingga sampai di dermaga, dilanjutkan dengan perahu speedboat selama 1-2 jam. Air sungai gambut yang terbelah berwarna kemerahan, ditemani burung-burung air mulai dari pecuk ular asia, raja-udang, lalu ada juga jenis sempur dengan paruh biru toskanya. Selama perjalanan kami disambut juga oleh berbagai spesies primata; Bekantan (Nasalis larvatus), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), dan Lutung Kelabu (Trachypitecus cristatus). Lengkap sekali.

Kami tiba di camp Perupuk, beristirahat sejenak dan melanjutkan obrolan yang dibuka oleh Pak Tarjudin, salah satu anggota tim reboisasi. Area di camp Perupuk telah lama terbuka akibat kebakaran hutan sejak 1990. Beliau menceritakan tentang bagaimana membaca musim saat persiapan penanaman. Jika biasanya menanam pohon dilakukan di musim penghujan, tim reboisasi mulai sejak musim kemarau hampir berakhir, supaya bibit sudah beradaptasi sebelum menghadapi musim hujan dengan intensitas tinggi dan meningkatnya volume air sungai, bahkan hingga menggenangi area sekitar camp. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan survival rate bibit. Upaya yang sangat besar untuk memulihkan ekosistem.

Selesai dari camp perupuk kami lalu beranjak pulang, menyusuri sungai yang sama di siang harinya. Kalau kata orang Jawa, ini panasnya ngenthang-ngenthang sampai menimbulkan sakit kepala. Di perjalanan, pandan sungai yang kami lewati terasa semakin rimbun membuat kami harus berhati-hati saat melewati aliran sungai yang sempit. 

Perjalanan dua jam berlalu, kami harus menyusuri jalan yang berbeda karena di anak sungai tempat kami menuju dermaga ternyata surut. Kami melewati semak-semak seperti petualangan yang muncul di film-film, walaupun setelah itu kami menghadapi pohon-pohon sawit.

Setelahnya, kami mengunjungi program kambing untuk janda yang dibentuk sejak tahun 2009, program ini punya tujuan untuk memberikan bantuan bagi ibu janda yang merupakan bagian dari komunitas masyarakat paling rentan dan memberi alternatif mata pencaharian yang legal dan berkelanjutan, supaya masyarakat (khususnya kelompok rentan) tidak lagi bergantung pada aktivitas yang merusak hutan. Hari itu saya belajar bagaimana kambing – yang berdasarkan pengalaman saya kambing hanya dikandangin, dikasih makan, supaya bisa dijual – tapi melalui program ini, kambing juga bisa punya peran menjaga hutan.

Perjalanan hari itu ditutup dengan pesta durian di belakang rumah kak Nabila dengan view pantai yang dihiasi bukit, ombak yang berdebur, kubah Masjid Oesman al-Khair, dan setumpuk durian lokal. Suasana yang asoy banget, sambil mengobrol santai.

Di hari ketiga, kami masih memulai hari dengan nongkrong di dekat hutan belakang asrama untuk mendengar sahut-sahutan suara owa klempiau – yang bagi saya terasa magis dan mengharukan – sama seperti saat pertama saya dengar suara owa jawa. Agenda kami lanjutkan dengan ikut morning meeting, di mana semua staff ASRI yang sedang berada di kantor. Secara bergantian setiap divisi meng-update kesibukan masing-masing. Ini adalah salah satu pertanyaan saya juga sebetulnya, bagaimana maintenance kekompakan staff dengan jumlah mencapai 100 orang lebih. Bagi saya tentunya hal yang baru, karena kami dari KIARA saat ini anggota staff masih berjumlah di bawah 20 orang. Aktivitas morning meeting ini menjadi salah satu upaya untuk menyelaraskan informasi antar divisi, untuk komunikasi dan mempererat hubungan kerja antar staff yang setiap harinya berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Kami, para peserta studi banding juga berkenalan. Kak Ayu menceritakan tentang owa jawa, Kak Wiiza mengenalkan ekosistem Leuser, dan saya mengenalkan tepuk semangat dan disambut tepuk WOW dari teman-teman ASRI, hihihi. Melihat cara kerja teman-teman ASRI, sepertinya kebiasaan ini serupa dengan yang KIARA juga lakukan, tapi bedanya kami melakukan update ini selama seminggu sekali yang kita sebut weekly check-in

Kegiatan kami lanjutkan dengan berbagi tentang manajemen internal. Banyaknya divisi yang sudah terbentuk di ASRI untuk menjalankan semua aktivitas baik operasional maupun program, kemudian bagaimana pengelolaan dan alur pengajuan di bagian keuangan, manajemen tim internal baiknya onsite ataupun remote, dan juga berbagi nilai inti organisasi seperti ASRI dengan tujuh nilai intinya; Dignity, Harmony, Integrity, Listening, Equality, Kinship, Exemplary. Di saat yang sama saya merasa bangga, karena nilai inti KIARA baru lahir beberapa bulan sebelum saya melaksanakan studi banding ini, diantaranya; Bahagia, Empati, Komunikasi Aktif, Komitmen, dan Kredibel. Hati saya merasa hangat ketika berbagi tentang ini, terutama nilai Bahagia yang seringkali kami resonansikan dengan senyuman & segelas lemon tea yang bisa kami beli di dekat kantor saat tim kami sedang agak pusing. 

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi pembibitan ASRI, pengrajin ecopolybag, dan program chainsaw buyback. Pembibitan berisi berbagai jenis bibit pohon mulai dari: Ubah (Syzygium spp.), Bintangor (Calophyllum sp.), dan Pulai (Alstonia scholaris), juga pohon durian lokal dan petai. Program livelihood ecopolybag dijalankan oleh ibu-ibu dampingan ASRI, membuat polybag ramah lingkungan dari bambu. Ibu-ibu ini juga punya peran untuk mengelola rumpun-rumpun bambu yang dipanen bertahap sambil patroli di sekitar area Gunung Palung. Sementara program chainsaw buyback dijalankan oleh mantan penebang liar dampingan ASRI. Mereka menyerahkan gergaji mesin mereka untuk ditukar dengan modal usaha tanpa bunga. Para mantan penebang ini juga beralih membangun usaha baru yang ramah lingkungan, mulai dari budidaya lebah madu, beternak, berdagang buah, dan seperti Pak Basyri yang beralih menjadi pekebun yang menanam lada, durian, cempedak, dan pisang. 

Waktu bergulir cepat, kami bersiap untuk mengikuti talkshow yang dirancang para remaja ‘Asri Teens’ bimbingan mbak Etty Rahmawati selaku manajer edukasi yang mengundang tiga narasumber; Kak Farwiza, kak Febri, dan Kak Ayu dalam tajuk ‘Women at the Forefront of Conservation: Refleksi Kontribusi Perempuan dalam Aksi Konservasi. Meskipun di awal pembukaan acara berlangsung mendebarkan karena Sukadana petang itu mati lampu, panitia mampu mengelola tantangan itu dengan baik. Peserta berkumpul di selasar café, di bawah taburan bintang dan mendengarkan bincang malam dari ketiga narasumber tentang bagaimana tantangan sebagai perempuan dan konservasionis yang harus percaya diri, mampu mengelola lembaga dengan baik, mengenakan ‘topi’ atau peran yang berbeda-beda, bagaimana menggugah dan menginspirasi orang lain, serta bagaimana “membumikan bahasa langit” agar pesan-pesan konservasi yang kerap terdengar rumit dapat sampai dan dipahami oleh siapa saja. Satu paragraf yang terlalu singkat yang dapat saya ceritakan untuk menyampaikan pesan-pesan itu.

Di hari berikutnya, kami bersiap untuk berkunjung ke Lubuk Baji di area Taman Nasional Gunung Palung. One of my dream – to visiting all of the National Park in Indonesia – become true that day. Saya sangat bersyukur. Ditemani pak Muslianto, ex-logger juga, yang sekarang menjadi ‘Sahut’ atau Sahabat Hutan binaan ASRI, membantu menjadi guide perjalanan kami. Selama sekitar satu jam kami menyusuri jalur, mulai dari gerbang, kebun durian, dan tiba-tiba kami memasuki hutan dengan vegetasi yang rapat, udara yang lebih dingin dan sejuk. Selama perjalanan, kami mendapatkan berbagai cerita dari Pak Mus, salah satunya tentang pohon ulin yang pertumbuhannya butuh waktu bertahun-tahun, namun hanya butuh sesaat untuk ditumbangkan. Kami juga dipertemukan dengan beberapa pohon ulin yang tampak tak sempurna, tak lurus seperti biasanya, ia tumbuh dari sisa akar yang ditebang, menjulang tinggi menolak mati. Saya merasa mendadak melankolis, kayu ulin ini rupaya tak hanya keras batangnya, tapi keras juga tekadnya untuk menjalani kehidupan. Senyum saya tidak bisa saya sembunyikan selama perjalanan itu.  

Perjalanan di bibir Gunung Palung itu menjadi penutup kegiatan ini. Kami bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya membawa pengalaman baru dan sudut pandang lebih luas tentang bagaimana melihat konservasi dari sisi yang lain, dan juga mempelajari tentang bagaimana sebuah lembaga bisa bermanfaat untuk banyak sektor. Dari para pemimpin yang saya temui saat kegiatan ini, saya menyadari bahwa tidaklah mudah mengelola sebuah lembaga dan setiapnya punya perjuangan dan tantangannya masing-masing. Para pemimpin ini selalu berusaha melakukan perbaikan dan perkembangan seiring berjalannya waktu, mereka tidak bisa langsung menjadi sempurna. Para pemimpin ini memiliki peran yang sangat penting dan perlu dukungan kuat, baik dari sesama pemimpin atau dari anggotanya untuk menentukan arah langkah organisasi dengan kebermanfaatan yang luas untuk kehidupan.

Terima kasih, Sukadana dan berbagai jamuan pengetahuannya. Sampai jumpa di lain kesempatan.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *