• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Satu Ruangan, Beragam Cerita bersama Facillab by Pause and Grow: Mempelajari Metode Fishbowl Discussion

Satu Ruangan, Beragam Cerita bersama Facillab by Pause and Grow: Mempelajari Metode Fishbowl Discussion

Narasi oleh: Amin Indra Wahyuni dan Nur Azzizah Firdaus

Pada hari minggu, 26 Juli 2026 berlokasi di Liberta-Hub, Jakarta tim edukasi Yayasan KIARA memperoleh kesempatan belajar tentang salah satu metode fasilitasi: Fishbowl Discussion. Kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama: praktik & observasi dinamika Fishbowl Discussion, belajar merancang dan memfasilitasi sesi Fishbowl Discussion, dan berjejaring dengan sesama fasilitator dan pegiat pembelajaran

Kegiatan ini dihadiri oleh 30 fasilitator dari berbagai lembaga dan latar belakang. Kegiatan dibuka dengan mengenal Facilab, sebuah wadah yang dibentuk oleh Pause and Grow yang memiliki tujuan untuk: ruang bertemu, berbagi pengalaman, dan belajar bersama bagi siapa pun yang antusias memfasilitasi meeting atau pengalaman belajar yang partisipatif dan bermakna. Selanjutnya kami diajak berkenalan dengan para peserta lain menggunakan metode acak, mengenalkan diri dan menggambarkan diri serta pekerjaan kami sebagai makanan. Kami berhasil berhasil menemukan setidaknya lima orang kenalan baru dari sekeliling kami. Setelah itu kami diajak bermain menemukan teman lagi, saat fasilitator bilang ‘motor’ kami harus berkumpul dua orang, ‘perahu’ tiga orang, dan ‘mobil’ empat orang. Saat kami dalam formasi mobil, kami diminta mengobrol dengan teman satu ‘mobil’ terkait: kenapa tertarik mengikuti facilab, apa bisa diimplementasikan dari metode fasilitasi untuk pekerjaan, lalu apa tantangan yang dirasakan oleh empat orang teman satu kelompok. Metode ini membuat kami semakin mengenal dan mendapatkan informasi ‘benang merah’ yang sama dari teman satu kelompok.

Banyak yang tantangannya sama, banyak yang ternyata implementasinya sama, dan dari kelompok kami baik alasan tertarik dengan facilab adalah untuk belajar hal baru dalam fasilitasi yang nantinya bisa kami implementasikan untuk mendukung kegiatan sehari-hari yang kami lakukan.

Setelah itu kami mulai mengenal apa itu ‘fishbowl discussion’. Metode ini memiliki definisi: diskusi kelompok yang dirancang supaya diskusi tetap fokus, partisipatif, dan tidak didominasi hanya oleh beberapa orang yang paling vokal.

Dalam metode ini, kami diberikan kursi dan membentuk lingkaran. Di dalam lingkaran itu disediakan meja yang dikelilingi empat kursi dengan gambaran seperti ini:

Peserta diajak untuk menjadi speaker (di dalam meja bundar) dan observer (di kursi terluar). Peran speaker adalah berbicara untuk mewakili pandangan dan pengalaman pribadinya, sementara observer mendengarkan penuh dan dipersilakan untuk berkontribusi ke dalam lingkaran dengan mengisi satu kursi yang akan selalu dikosongkan. Ada norma yang harus disepakati bersama, seperti tidak ada jawaban benar atau salah, kerahasiaan informasi personal yang dibagikan, menghormati waktu dan keberagaman ide, serta kursi kosong sebagai undangan untuk suara baru.

Praktik metode tersebut pun dimulai, pada putaran pertama topik diskusinya adalah “bagaimana menangani peserta yang mendominasi tanpa mematikan semangatnya?”. Para peserta berbagi pengalamannya dengan cara memberikan validasi dan apresiasi, intervensi halus, perlunya kesepakatan waktu di awal sesi, penggunaan alat bantu seperti jam pasir, dan ketegasan fasilitator. Di tengah sesi juga ada peserta lain yang memberikan pertanyaannya “bagaiamana menanganinya jika itu peserta pasif?”. Untuk peserta pasif dapat dibangun kepercayaanya dengan menciptakan suasana nyaman sejak awal, mengajukan pertanyaan pemantik, mengundang secara spesifik dengan memanggil nama peserta, dan memberikan misi kepada peserta pasif.

Tak terasa, waktu putaran pertama pun usai dan dilanjutkan dengan pertanyaan putaran kedua “bagaimana menciptakan keamanan psikologis bagi peserta diskusi, peran fasil, kelompok, apa yang perlu diperhatikan?”. Semakin banyak peserta yang hadir di lingkaran dalam secara bergantian untuk berbagi pengalamannya. Keamanan psikologis dapat diciptakan oleh fasilitator melalui perannya dengan mengapresiasi, mengatur alur diskusi, menyampaikan norma dan penyampaian ide sejak awal kegiatan, mendengarkan aktif, tidak terbawa suasana, dan memberikan kesempatan semua orang untuk berpendapat. Sementara, kelompok dapat berperan untuk saling menguatkan, menciptakan ruang aman bagi satu sama lain, dan keterbukaan. Sehinnga poin-poin tersebut dapat dikembalikan lagi dengan kode etik atau aturan dasar yang harus disepakati di awal sesi.

Melalui metode fishbowl discussion, diskusi jadi lebih interaktif dan terbuka. Meskipun, dalam dua putaran tersebut masih belum ada peserta yang tidak setuju dari semua pendapat. Dari pengalaman yang beragam ternyata banyak hal dan perasaaan kekhawatiran yang sama saat mengalami kegiatan fasilitasi.

Dalam kegiatan ini, muncul pertanyaan baru. Kapan metode ini akan efektif digunakan?. Kak Putri selaku fasilitator pun menyampaikan kondisi yang tepat untuk metodei ni adalah ketika ingin mencari perspektif dari peserta yang familiar dengan topik sehingga opini dan pendapat dapat beragam dengan jumlah peserta ideal sebanyak 3-6 speaker dan 50-60 observer.

Dua setengah jam berlalu begitu cepat, kegiatan sudah berada di penghujung acara. Kegiatan ini menjadi momentum untuk berbagi pengalaman dari para fasilitator yang berasal dari berbagai lembaga. Kami banyak berjejaring dengan beberapa komunitas yang turut hadir juga dalam kegiatan ini, sebuah kesempatan baik untuk bertukar pengalaman tentang kegiatan konservasi, pendidikan, dan kampanye dari latar belakang yang berbeda.

Terima kasih banyak Facilab by Pause and grow telah menjadi wadah untuk kami bisa bertukar cerita dan insight yang beragam. Semoga bisa bergabung lagi di kesempatan baik lainnya!

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *