• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Beyond Borders: Lessons from Regional Resilience Dialogue at Bangkok, 15-16 Juni 2026

Beyond Borders: Lessons from Regional Resilience Dialogue at Bangkok, 15-16 Juni 2026

Narasi oleh Alina Simokar – Data Management Officer

Ketika mendengar istilah “kejahatan lingkungan”, kita mungkin membayangkan penebangan liar atau perburuan satwa. Namun, persoalan yang lebih luas sesungguhnya sedang berlangsung. Mulai dari penambangan sumber daya alam secara ilegal, perdagangan satwa liar, ekspansi tambak garam yang merusak ekosistem pesisir, hingga penangkapan ikan secara ilegal, semuanya kini menjadi ancaman yang nyata bagi ekosistem dan kesejahteraan manusia. Itulah gambaran yang saya temui dalam Regional Resilience Dialogue.

Regional Resilience Dialogue yang diselenggarakan pada 15-16 Juni 2026 di Bangkok, Thailand merupakan sebuah ruang pembelajaran sekaligus forum diskusi mengenai pengalaman berbagai organisasi di Asia dalam menghadapi beragam isu kejahatan lingkungan. Selama dua hari pelaksanaan, peserta tidak hanya mempresentasikan proyek yang telah dilaksanakan, tetapi juga mendiskusikan tantangan di lapangan, membangun jejaring, serta mempelajari pendekatan baru yang dapat diterapkan. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, para peserta menghadapi isu dengan pola yang serupa, eksploitasi sumber daya alam, lemahnya penegakan hukum, serta pentingnya membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat.

Nature Crimes in Asia

Pada hari pertama, kegiatan diawali dengan perkenalan yang memberikan kesempatan bagi para peserta untuk saling mengenal sebelum memasuki rangkaian diskusi. Setelah pengenalan mengenai kegiatan ini, sesi dilanjutkan dengan presentasi dari masing-masing organisasi mengenai proyek yang sedang maupun telah dilaksanakan.

Sesi dibuka dengan topik mengenai tambang ilegal, salah satu isu lingkungan yang menjadi tantangan besar di berbagai negara Asia. Isu yang diangkat dari Indonesia dan Thailand menggambarkan aktivitas penambangan sumber daya alam secara ilegal yang tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan persoalan ekonomi, sosial, hingga keamanan masyarakat. Penambangan ilegal berdampak pada degradasi kawasan hutan, kerusakan lingkungan yang membatasi mata pencaharian masyarakat, serta pencemaran lingkungan skala besar yang berdampak pada beberapa negara. Meskipun konteks kedua negara berbeda, isu tambang ilegal memiliki tantangan yang hampir serupa, seperti lemahnya penegakan hukum, keberadaan tokoh yang mendukung operasional, serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat yang menyampaikan penolakan.

Di sisi lain, isu pembukaan tambak garam ilegal di India memberikan perspektif mengenai ancaman terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir. Aktivitas pembukaan tambak garam tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan menyebabkan konversi kawasan pesisir, khususnya ekosistem mangrove. Kerusakan tersebut berdampak pada penurunan fungsi ekologis kawasan dan hilangnya habitat bagi berbagai jenis fauna perairan.

Topik  perdagangan satwa liar (illegal wildlife trade) menghadirkan presenter dari Malaysia, Laos, India, Indonesia, dan Nepal yang membagikan pengalaman organisasi masing-masing dalam menghadapi perdagangan satwa liar. Sebagian besar organisasi tidak hanya berfokus pada satu spesies tertentu, melainkan berbagai spesies satwa yang menjadi target perburuan dan perdagangan ilegal di wilayah kerja masing-masing.

Pada sesi ini, saya berkesempatan untuk membagikan pengalaman Yayasan KIARA merancang dan melaksanakan kampanye pencegahan peredaran satwa liar. Selain melalui kampanye secara berkala ke berbagai sekolah melalui roadshow dan sosialisasi, KIARA mengembangkan kampanye digital berbasis data untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas. Kami menyadari bahwa media sosial merupakan salah satu sarana yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran publik dari berbagai generasi.

Selama sesi berlangsung, saya menyadari bahwa terdapat beragam upaya konservasi yang dilakukan, mulai dari penyelamatan satwa, penguatan penegakan hukum, penyadartahuan bagi masyarakat, peningkatan kapasitas komunitas, hingga penyelenggaraan program edukasi bagi siswa sekolah dasar hingga menengah. Pendekatan yang dilakukan selalu menyesuaikan konteks di setiap wilayah. Akan tetapi, terdapat suatu tujuan yang sama, yaitu menjangkau komunitas masyarakat serta membangun partisipasi publik dalam isu-isu konservasi.

Menjelang akhir hari pertama, pembahasan beralih pada isu penebangan dan penyelundupan kayu ilegal di wilayah perbatasan Nepal serta illegal fishing di Filipina dan Malaysia. Kedua isu tersebut menunjukkan bahwa kawasan perbatasan, termasuk perairan, memiliki tantangan tersendiri karena melibatkan banyak pihak dan koordinasi lintas wilayah. Pendekatan yang dilakukan cukup beragam, meliputi peningkatan kapasitas masyarakat, pendidikan lingkungan bagi generasi muda, penguatan jejaring dengan komunitas lokal, serta kolaborasi bersama pemerintah.

Di akhir hari pertama, saya menyadari bahwa meskipun terdapat berbagai isu kejahatan lingkungan yang berbeda-beda, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan komunitas lokal.

Security System and Coalition Building

Kegiatan hari kedua lebih berfokus pada peningkatan kapasitas organisasi melalui fasilitasi mengenai sistem keamanan dan coalition building. Sesi pertama membahas mengenai pentingnya membangun sistem keamanan organisasi untuk melindungi individu yang terlibat maupun informasi yang dikelola. Selain identifikasi risiko, penyusunan strategi mitigasi hingga praktik pengelolaan data yang aman turut dipelajari oleh para peserta. 

Sementara itu, sesi coalition building mengajak para peserta untuk mempelajari salah satu aspek penting dalam pelaksanaan program. Kami berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi ketika membangun kolaborasi bersama komunitas maupun organisasi dan lembaga lain yang memiliki tujuan serupa. Peserta diajak untuk melakukan analisis stakeholder serta mengidentifikasi pihak yang terdampak maupun berpengaruh terhadap isu yang dihadapi. Melalui sesi ini, saya memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga kemampuan untuk membangun relasi yang berkelanjutan.

Valuable Lesson Learned

Rangkaian kegiatan dan diskusi Resilience Dialogue memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat berbagai persoalan lingkungan dari perspektif lintas negara sekaligus beragam pendekatan yang diterapkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Setiap negara memiliki konteks sosial, politik, dan lingkungan yang berbeda. Namun, tantangan yang dihadapi menunjukkan adanya pola yang saling terhubung. Oleh karena itu, kolaborasi dan pembangunan jejaring menjadi faktor penting dalam memperkuat upaya konservasi yang dilaksanakan.

Kita mungkin tidak pernah membeli dan memelihara satwa liar secara langsung. Namun, setiap tanda suka yang kita tekan, komentar yang kita tuliskan, maupun konten yang kita bagikan dapat membawa dampak – apakah mendukung upaya pelestarian atau justru mengancam kehidupan owa di alam liar? Pilihan yang terlihat sederhana ini sesungguhnya akan membawa pengaruh besar terhadap masa depan mereka.

Terima kasih kepada Global Initiative atas dukungan dan ruang diskusi yang berharga, serta seluruh peserta yang telah membagikan pengalaman, pembelajaran, dan inspirasi. Sampai berjumpa di kesempatan berikutnya!

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *