
Belajar untuk Mengajar: Catatan dari Kegiatan Pelatihan Komunikasi untuk Edukasi Konservasi bersama Forum Jejak Owa dan Semua Murid Semua Guru (SMSG)
Narasi oleh: Amin Indra Wahyuni, Tim Edukasi Yayasan KIARA
Edukasi memiliki tujuan utama untuk menyebarkan informasi untuk mempengaruhi orang lain, membuat hidup seseorang menjadi lebih bermakna, terampil, dan berpengetahuan, dan dalam menyampaikan edukasi dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang cukup baik.
Mungkin seperti itu gambaran edukasi secara sederhana di pikiran saya. Saat mulai menjadi bagian dari tim edukasi di Yayasan KIARA, saya hanya berbekal keberanian dan pengetahuan dasar terkait owa jawa yang saya peroleh saat penelitian. Proses menjadi percaya diri dan mampu mengingat seluk-beluk dasar tentang owa jawa juga saya dapatkan dalam waktu yang tidak singkat.
Kali ini saya mendapatkan kesempatan belajar bersama Semua Murid Semua Guru (SMSG) dalam pelatihan yang diinisiasi oleh Jejak Owa (Forum Jejaring Konservasi Owa Indonesia) pada 14–15 Oktober 2026. Sebuah kesempatan baik untuk belajar banyak hal tentang “mengajar” langsung dari praktisinya.
Pelatihan dibuka dengan pertanyaan yang kelihatannya sederhana dari fasilitator: “kamu ke sekolah mau ngapain?” Pertanyaan itu membuat saya berefleksi, selama ini saya lebih sering memikirkan apa yang akan saya sampaikan, bukan apa yang ingin dicapai setelah anak-anak pulang. Kalau materi sudah disusun dengan baik dan dikuasai, rasanya sudah siap mengajar. Padahal tahu banyak tentang owa jawa belum tentu mampu membuat orang lain peduli kepada owa dan habitatnya karena masalahnya kadang bukan soal orang yang tidak tahu tentang owa, tetapi yang tidak peduli. Pada pelatihan ini, fasilitator menyampaikan bahwa tujuan edukasi tidak boleh berhenti di pengetahuan (head), tetapi harus menyentuh perasaan (heart) dan berujung pada tindakan (hands). Pengetahuan baru pintu masuknya.

Untuk itu kami diperkenalkan pada kerangka berpikir tentang: miskonsepsi atau problem, akibatnya, dan tujuan pembelajaran yang perlu dicapai. Kerangka ini mengajak kita berpikir mundur, bukan mulai dari materi yang ingin diajarkan, melainkan dari masalah apa yang ingin disampaikan dan diluruskan informasinya. Miskonsepsi sering menjadi akar masalah yang perlu diintervensi pendidikan. Pada bagian ‘akibat’ kami diajak menjabarkan dampak yang terjadi akibat setiap miskonsepsi, sehingga bisa menentukan mana yang paling mendesak. Bagian ‘tujuan pembelajaran’ ditujukan untuk masalah itu menjadi sasaran yang menyentuh head, heart, dan hands. Kerangka ini membantu menjawab dua pertanyaan: masalah apa yang perlu kita selesaikan, dan solusi apa yang perlu kita sampaikan sehingga membantu menyusun tujuan pembelajaran (TP) dan menciptakan aktivitas pembelajaran yang relevan dan tepat sasaran.
| Miskonsepsi atau problem | Akibatnya | Tujuan Pembelajaran yang perlu dicapai |
| Owa dianggap sebagai binatang peliharaan (pets) Sekolah tidak mengajarkan dengan tegas bahwa tidak semua hewan dapat dipelihara di rumah | Berakibat buruk pada kesejahteraan OwaMengganggu kelestarian alam | ? |
Selain miskonsepsi, kami diperkenalkan dengan metode storytelling, bagaimana menyampaikan materi pada jenjang pendidikan yang berbeda, lalu kami juga belajar tentang Project Based Learning (PjBL) dan ditutup dengan microteaching.

Pelatihan ini membuat saya kembali berpikir, apakah edukasi yang dilakukan selama ini sudah cukup mengena di hati para siswa? Apakah pesan yang saya sampaikan mereka ingat sampai sekarang? Apakah mereka akan terinspirasi untuk ikut menjaga alam?. Meskipun banyak pertanyaan bergulir di kepala saya, secara perlahan saya berusaha menjawabnya sendiri dengan optimis. Sepertinya, tak ada pendidik yang langsung mahir mengajar.
Dari kegiatan ini saya membawa pulang semangat baru, melihat ada banyak orang yang konsisten dalam upaya menyebarluaskan informasi dan kepedulian terhadap owa jawa dan habitatnya: ada Kang Nuy bersama saya yang mewakili KIARA; Kak Fifit dan Jani dari Cikananga, Elif, Kak Remi, dan Inggit dari YIARI; Balqis dan Roymen dari Sanggabuana Conservation Foundation; Mas Kuswoto dan Lukni dari SwaraOwa; serta Itiya dan Syifa yang mewakili Yayasan Owa Jawa dari UHAMKA. Hati saya juga terasa sangat hangat karena memperoleh dukungan dari teman-teman fasilitator SMSG yang mendukung penuh berbagai upaya yang kami lakukan untuk menjaga owa jawa dan habitat alaminya.

Terima kasih banyak atas kehangatan dan keseruan yang diciptakan Jejak Owa & SMSG, saya merasa sangat ingin meneruskan ilmunya kepada orang lain. Semoga ilmunya senantiasa bermanfaat.