• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Catatan Harian ‘Arek Malang’ Goes to Citalahab Sentral!

Catatan Harian ‘Arek Malang’ Goes to Citalahab Sentral!

Narasi oleh: Ruly Rahmawati

Hallo Teman KIARA!

Kenalin, aku Ruly dan ada dua sobat bolangku ada Lorna dan Mahesa, kami merupakan mahasiswa magang dari Jurusan Rekayasa Kehutanan, Universitas Brawijaya.

Semester ini, tepatnya saat kita liburan di semester 6 aku dan teman-teman memilih untuk melakukan magang mandiri di bidang konservasi, dan IYA kita memilih Yayasan KIARA sebagai tempat belajar untuk 1,5 bulan kedepan, tepatnya juli–Agustus.

Awalnya di semester 6 awal aku inget sekali, di rumah sedang membuka sosial media dan tak lama muncul Ibu Ayu di fyp aku, iya Ibu Ayu founder sekaligus direktur dari Yayasan KIARA yang sedang mendapatkan penghargaan Whitley karena ketekunannya dalam melakukan upaya perlindungan keberadaan Owa Jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Aku si awam satwa ini menjajal magang di NGO konservasi Owa Jawa, Yayasan KIARA selama bulan 1,5 Bulan!

Mau tau alasannya kenapa aku rela nih jauh-jauh dari Malang ke Citalahab? Mungkin bagi kalian “sepele” tapi aku disini belajar banyak rek! Penasaran gasih apa aja pengalaman apa aja yang aku dapetin?

Setelah Ibu Ayu muncul di fyp sosial media aku, aku semakin tertarik dengan apa yang sedang ibu geluti. “Primata” dan “Owa Jawa” masih sering masuk ke pikiranku hingga akhirnya aku mencari tahu itu dan ternyata salah satu habitat alami dari Owa Jawa yang masih terjaga di Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Menarik! Aku semakin ingin bertemu dan belajar mengenai Owa Jawa. Singkatnya, saat itu aku sedang duduk di teras rumah bersama bapakku dan mengobrol mengenai rencana magangku untuk liburan ini, tanpa ba bi bu, aku langsung meminta izin “Pak, aku ingin magang di Jawa Barat boleh tidak ya? Tidak jauh dan masih sejalan dengan apa yang aku pelajari, boleh ya?” singkat bapakku langsung menjawab “Selagi masih di Jawa dan bapak bisa memantau, berangkatlah adek” GAS! Restu bapak sudah aku kantongi, sisanya bisalah aku kerjakan sambil jalan hehehe!, sejak saat itu aku rajin mencari informasi mengenai Yayasan KIARA terlebih mengenai alur intership-nya.

Setelah huru-hara mengurus persuratan ke kampus, pihak KIARA, sampai persuratan di Balai TNGHS, pada 30 Juli bersama dengan dua teman seperjuanku yaitu Lorna dan Mahesa kita berangkat bertiga ke bogor dan puncaknya kita bertiga sampai di Citalahab sentral. Tempat kita bertiga tinggal “rumah ke-2” untuk kita. Perjalanan kali ini agak berbeda, biasanya kami melewati jalanan mulus di kota, tetapi memasuki jalan di Citalahab Sentral jalanan sedikit membuat badan “terkocok” karena itu full batuan! Tapi pemandangan yang disuguhkan bagus banget euy, asli!

Ini pertama kalinya menjejakan kaki di kampung Citalahab Sentral. Tempat yang akan dijadikan tempat pulang untuk beberapa bulan kedepan, “Rumah Owa” kami menyebutnya seperti ini. Hari pertama aku bertemu dengan Pak Ade selaku ketua RT di sini, bersilaturahmi sekaligus meminta izin untuk melakukan kegiatan di “Rumah Owa” untuk 1,5 bulan kedepan. Perkenalan selanjutnya dengan Ambu Halimun, kelompok pemberdayaan perempuan yang juga diinisiasi Yayasan KIARA. Semua tampak ramah dan menyambut dengan hangat!

Hari berikutnya semakin seru! Pagi diisi dengan perkenalan jalur oleh Kang Nuy, Kak Alina dan kedua temanku. Perjalanan dimulai hingga kami sampai di beberapa spot seperti plang owa yang ada di HM 10, disitu Kang Nuy menunjukkan kami beberapa buah-buahan yang dimakan owa, hingga pohon tidur owa. Kesan pertama bagiku, ENGAP HEHE, trek yang menanjak sesekali membuat aku ngap ngapan sembari berjalan, tapi Kang Nuy dan Kak Alin selalu makesure aku aman si, sesekali mereka bertanya “aman rul? Berhenti dulu minum hehehe” mau lihat ngga penampakan kita pertama kali ke hutan? ini hehee

Sore hari pun tiba, kita semua mempersiapkan diri untuk memaparkan tujuan kami kesini, perkenalan diri hingga rencana mini riset yang akan kami paparkan satu persatu. “Malu” kesan pertama kita melihat akang-akang asisten, ketika kami memaparkan rencana riset kami satu-persatu akang akang asisten masih terlihat bingung, malu-malu saat bertanya, tetapi mungkin itu “perkenalan” yang sebenarnya belum dimulai. Lain ceritanya ketika kami di lapangan HAHAHA.

Kalau ada yang berpikir kegiatan magang di lapangan hanya berisi jalan kaki jauh, mencatat data, mengamati pohon, dan berkutat dengan penelitian, maka itu benar… tapi tidak sepenuhnya benar. Karena di balik setiap data yang berhasil dikumpulkan, ternyata ada banyak cerita, kejadian lucu, dan momen-momen random yang tidak pernah masuk dalam tabel pengamatan. Selama berada di lapangan bersama tim KIARA, kami tidak hanya mendapatkan pengalaman tentang konservasi, tetapi juga mendapatkan “bonus” berupa nama panggilan baru. Entah bagaimana awal mulanya, mungkin karena tingkah laku, kebiasaan, atau hasil diskusi rahasia

yang tidak pernah saya ketahui, akhirnya muncullah tiga nama fenomenal: aku (Lorna) sebagai “Si Maghrib”, Mahesa sebagai “Ablohah”, dan Ruly sebagai “Shipa”.

Sampai sekarang pun alasan di balik nama tersebut masih menjadi misteri. Tidak ada penelitian khusus, tidak ada hipotesis, bahkan tidak ada jurnal pendukung yang menjelaskan fenomena ini, hihihi. Namun, satu hal yang pasti, nama-nama tersebut menjadi tanda bahwa terlalu banyak cerita yang sudah dilewati bersama sampai akhirnya nama asli pun hampir kalah populer .

Hari-hari yang dilewati di lapangan selalu penuh kejutan dan memberikan energi yang positif kepada kami. Ada hari ketika kami merasa seperti peneliti profesional yang sedang melakukan ekspedisi besar, tetapi ada juga hari ketika kami lebih terlihat seperti orang yang sedang belajar bertahan hidup (lebih tepatnya Si Maghrib ini). Salah satu contohnya adalah saat mencoba menyeberangi sungai menggunakan pohon tumbang sebagai “jembatan alami”. Kalau dilihat dari jauh, pohon tersebut terlihat sangat meyakinkan. Dalam pikiranku: “Ah, gampang ini, tinggal jalan pelan-pelan”. Namun ketika sudah berada di atasnya, keseimbangan mulai diuji. Setiap langkah terasa seperti ujian hidup. Salah sedikit bisa mendapatkan pengalaman tambahan berupa mandi sungai tanpa biaya. Walaupun sedikit menegangkan, momen tersebut tetap menjadi pengalaman yang seru-seru sedap untuk dikenang.

Belum selesai dengan tantangan sungai, jalur hutan juga memberikan hiburan tersendiri. Ada sesi berseluncur ria alias terperosot, yang sebenarnya tidak masuk dalam agenda penelitian atau pun tidak direncanakan sebelumnya, akan tetapi berhasil menjadi “praktik lapangan” tambahan tentang pembelajaran menjaga keseimbangan badan terhadap medan yang dilalui. Tidak lupa juga mencoba ayunan alami dari liana yang kokoh. Rasanya seperti bermain wahana alam versi hutan—bedanya tidak ada sabuk pengaman, tidak ada petugas penjaga, hanya berpegang teguh dengan iman dan takwa. Salah satu hal yang cukup membuat tertawa adalah kejadian yang terjadi oleh ‘Ablohah’ alias Mahesa yang berayun dengan senang sampai berhenti dikarenakan badannya bertabrakan langsung dengan pohon tempat liana nya tumbuh, ketika hal tersebut terjadi semua yang melihat tertawa terbahak-bahak melihat aksi seorang komedian bernama Abolohah tersebut.

Selain tantangan alam, kehidupan bersama tim lapangan juga tidak pernah sepi dari kejutan, terutama karena kebaikan para akang asisten yang sering memberikan makanan memberikan pengetahuan terkait daun maupun buah yang dapat dimakan ketika di dalam hutan walaupun dengan variasi rasa yang cukup banyak mulai dari asam, manis dan yang paling banyak adalah pahit AHAHAHA. Namun, di antara semuanya, ada satu orang yang memiliki bakat khusus dalam membuat orang penasaran, yaitu Kang Alan. Kalau Kang Alan sudah menawarkan makanan, sebaiknya jangan langsung percaya 100 persen. Strategi paling aman adalah meminta beliau mencoba terlebih dahulu sebagai bentuk “uji keamanan makanan”. Akan tetapi hal tersebut tidak cukup efektif dikarenakan beliau dapat menyembunyikan ekspresi alaminya ketika memakannya. Tapi lucunya, meskipun sudah tahu kebiasaan beliau, kami tetap saja sering

berhasil terkena jebakan batman yang biasa sering disebut oleh akang-akang asisten. Entah karena terlalu percaya, terlalu lapar, atau memang kemampuan membaca situasi kami yang masih perlu ditingkatkan lagi.

Salah satu kejadian paling berkesan adalah ketika Kang Alan berpamitan pergi ke sungai untuk buang air kecil. Aku pun hanya mengangguk dan menunggu seperti biasa. Beberapa saat kemudian, Kang Alan kembali dengan langkah yang sangat cepat, bahkan seperti sedang dikejar hantu. Dalam hati aku berpikir, “Bukannya sudah selesai buang air kecil? Kok jalannya seperti sedang dikejar deadline?”

Aku hanya diam sambil melihat beliau melewatiku dengan wajah bingung. Tiba-tiba terdengar suara kecil yang cukup mengejutkan: “ORAIII!”

Karena tidak memahami maksudnya, aku hanya bisa berkedip beberapa kali sambil memasang ekspresi kosong. Dalam pikiranku saat itu mungkin hanya ada satu pertanyaan: “Ini kode apa? Bahasa apa? Apakah aku melewatkan pelajaran bahasa Sunda selama ini?”. Melihat wajahku yang masih tidak mengerti, Kang Alan akhirnya memperjelas dengan suara lebih keras: “AWAS ULARRR!”

Dan benar saja, kata-kata itu berhasil mengubah suasana menjadi adegan film aksi. Tanpa perlu berpikir panjang, aku langsung lari terbirit-birit. Kecepatan lari saat itu mungkin menjadi salah satu rekor pribadi yang tidak pernah tercatat dalam penelitian apa pun. Sejak kejadian tersebut, aku menyimpulkan satu hal penting: selain belajar tentang tumbuhan, satwa, dan konservasi, mungkin kemampuan memahami bahasa Sunda juga merupakan keterampilan wajib bagi anak magang di lapangan.

Pada akhirnya, pengalaman magang yang sudah dilakukan ini bukan hanya tentang data dan hasil penelitian. Melainkan lebih dari itu, perjalanan ini memberikan banyak cerita-cerita kecil yang membuat setiap hari menjadi lebih berwarna dan kebersamaan yang dilalui berasa sangat nyaman. Mulai dari nama panggilan yang tiba-tiba muncul, perjuangan melewati medan hutan, makanan jebakan dari Kang Alan, hingga kepanikan karena “AWAS ULARRR”. Karena terkadang, hal-hal sederhana dan kejadian tidak terduga justru menjadi bagian yang paling sulit dilupakan dari sebuah perjalanan. Walaupun memang jika dikatakan waktu magang kami sangat singkat apabila dibandingkan yang lain akan tetapi sudah banyak kejadian ataupun cerita yang kami dapatkan dan semuanya merupakan pengalaman yang sangat bagus dan seru sekali. Semoga kami yaitu “Si Maghrib”, “Ablohah”, dan “Shipa” dapat memberikan kenangan yang baik dan tidak kalah seru juga kepada akang-akang dan tim kantor juga.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *