
Menggelar Lapak Pagelaran Wayang Owa di Empat Sekolah Dasar di Kecamatan Kabandungan
Narasi oleh: Amin Indra Wahyuni
Salah satu prinsip pelayanan psikologi komunitas adalah dengan mengutamakan prinsip pencegahan. Jika kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah ditingkatkan di masa awal kehidupan, masalah di masa depan akan dapat dihindari dengan lebih mudah, begitu kata buku dengan judul “Psikologi Komunitas”. Jauh sebelum saya punya kesempatan membaca buku itu, kegiatan pendidikan konservasi dengan prinsip tersebut telah dijalankan oleh Yayasan KIARA. Kali ini, tim edukasi kami berkesempatan melaksanakan Kampanye Edukasi Owa Jawa di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi. Area yang sangat dekat dengan pintu masuk menuju hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, salah satu habitat bagi owa jawa, kera kecil terakhir di Pulau Jawa.
Bersama dengan tim edukasi, kami memboyong seperangkat alat pendukung untuk pagelaran wayang owa yang judulnya: ‘Owa butuh hutan, hutan juga butuh owa’ walau sejatinya saling keterkaitan tak hanya terbatas pada owa dan hutan melainkan juga dengan manusia. Kami kembali menceritakan bagaimana owa jawa berperan penting di hutan sebagai ‘si petani hutan’ yang menyebarkan biji ficus, cecer monteng, sarai, canar, dan berbagai biji buah-buahan lainnya kepada adik-adik kelas tinggi dari SDN 01 Pameungpeuk, SDN Pandan Arum, SDN Cisalimar, dan SDN Cipeuteuy.
Tim edukasi terbagi ke dalam beberapa tugas, ada yang jadi MC, ada yang jadi pemateri, ada yang menjadi dalang, ada yang menjadi maskot dan ada yang mengabadikan momen-momen lucu di setiap perubahan aktivitas.
Sebelum kami mulai bercerita, kami berkenalan lebih dulu dengan para siswa dipandu oleh kakak MC, kami bermain dengan salah satu permainan: ‘Duduk senang, berdiri senang, berputar-putar mencari teman.. berputar-putar berkeliling, sambil mencari teman! Ayo cari tiga teman!’. Begitu cara kami mencairkan suasana, anak-anak langsung teriak ‘aaaaaaa’ sambil mencari tiga temannya. Selain itu, anak-anak diajak bernyanyi: Ular naga panjangnya, bukan kepalang. Menjalar-jalar selalu kian kemarin, umpan yang lezat, itulah yang dicari. Ini dianya yang terperangkap!

Kegiatan pun kami mulai. Kakak MC mempersilakan para pendalang untuk memulai pagelaran wayang owa.
‘Sekar, seorang gadis kecil yang penuh rasa ingin tahu terpaku di atas sebuah buku tentang hutan dan satwa penyebar biji’. Dalang memulai cerita dengan memperkenalkan sekar & ibu.

‘Di suatu pagi yang cerah di sebuah hutan hujan, terdengar riuh rendah suara burung-burung berkicau. Sikatan Ninon, Pelanduk Semak, dan Cingcoang Coklat saling bersahutan, beradu kemerduan dan memecah keheningan pagi, sebuah pertanda dari alam bahwa hari akan dimulai. Lalu, lambat laun satu alunan suara yang tidak kalah merdu bergema di udara. “Wuk.. Wuk.. Wuk… Wuuuukkkkk..’ Cerita berlanjut, dalang mulai memperkenalkan hutan kepada anak-anak. Kemudian dalang memperkenalkan owa jawa dan perannya sebagai petani hutan.
‘Buah itu masuk ke dalam pencernaan owa beserta dengan biji-bijinya. Biji itu tidak hancur, lalu keluar bersama dengan kotoran owa.. syuuuuung buukk, syuuuung buk’. Dengan berbagai ekspresi, anak-anak menyimak cerita dengan khidmat. Ada yang melongo sambil fokus melihat pergerakan owa di panggung wayang owa, ada yang mencatat nama tokoh, ada yang tertawa ketika dalang menceritakan bagaimana owa jawa buang kotoran, sambil mencolek teman di sebelahnya. Membangun ketertarikan itu penting untuk memunculkan rasa peduli terhadap sesuatu, dan ekspresi yang saya ceritakan tadi menunjukkan bahwa anak-anak tertarik dengan pagelaran ini.
Setelah pagelaran selesai, kami mengajak siswa untuk mencoba menjadi dalang. Tiga sampai enam orang maju dari setiap sekolah, masuk ke panggung dan memilih tokoh wayang yang ingin dimainkan.

Acara masih belum selesai, siswa duduk kembali dengan rapi dan menyimak materi tentang ekologi owa jawa, juga menyimak video edukasi tentang perilaku harian owa jawa. Ada yang menarik dari sesi ini, seorang siswa dari SDN 01 Pameungpeuk membahas tentang keberadaan sawit, yang mungkin dipengaruhi dengan keadaan hutan yang terbakar dan pembahasan tentang sawit yang beredar di mana-mana.

Apapun pertanyaannya, tim edukasi akan dengan senang hati menanggapinya. Kami menjawab pertanyaan tersebut dengan pertanyaan lagi, memantik pendapat dari siswa tentang hutan dan tumbuhan yang ada di dalamnya, dengan begitu teman-teman sekelas akan lebih banyak mendengar pendapatnya.

Kegiatan kami tutup dengan membagikan hadiah berupa alat tulis, komik strip, dan kejutan kehadiran owi, maskot owa jawa. Semua siswa senang, satu demi satu mengajak owi untuk toss.
-o-
Pembelajaran yang bermakna, adalah pembelajaran yang kontekstual. Owa jawa adalah salah satu topik yang menarik untuk dibahas bersama anak-anak yang bertempat tinggal di bibir hutan, habitat owa jawa. Dalam pelaksanaan kegiatan kampanye edukasi, kami juga menambahkan materi khususnya tentang hutan secara umum yang disambung dengan permasalahan bencana alam yang disebabkan manusia dan yang terjadi secara alami seperti kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor, mengingat hal-hal tersebut sedang terjadi di Indonesia. Pembahasan ini kait kaitkan dengan dampak yang dapat mempengaruhi kehidupan siswa, dan para penghuni mulai dari satwa hingga tumbuhan. Sebagai pertanyaan pemantik, kemudian siswa ditanya tentang apa yang bisa dilakukan anak sekolah dasar untuk menjaga hutan lalu kami memperoleh jawaban seperti: menjaga lingkungan, menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, dan tidak membakar hutan.

Langkah yang baik untuk mendorong anak-anak mampu membedakan hal baik & buruk yang bisa saja terjadi di lingkungan sekitar & menstimulasi siswa untuk melakukan sesuatu yang berdampak. Meskipun upaya edukasi tidak memberikan hasil secara langsung, tapi kami percaya bahwa saat ini kami sedang menabur benih baik, yang suatu hari nanti akan dituai kebaikannya. Mungkin bukan untuk kami, tapi untuk alam semesta dan sesiapa saja yang ditemui mereka di masa depan.