Rainforest Live 2021

Ditulis oleh: Fauzia Yudanti

Hutan Citalahab yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu hutan hujan tropis yang ada di Pulau Jawa. Kondisi Hutan Citalahab yang sebagian besar masih terjaga kelestariannya menjadikan Hutan Citalahab sebagai salah satu wilayah yang memiliki keindahan panorama dan keanekaragaman hayati di dalamnya. 

Borneo Nature Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang fokus kepada upaya konservasi keanekaragaman hayati di Kalimantan menggagas sebuah kampanye edukasi bertemakan Rainforest Festival 2021, yang menjadi sebuah acara kolaborasi bersama beberapa organisasi pemerhati lingkungan, salah satunya adalah Yayasan Kiara. Acara ini berfokus untuk mengkampanyekan keanekaragaman hayati di tiap sudut hutan yang tersisa kemudian mempublikasikannya melalui media sosial agar dapat diakses oleh publik.  Kegiatan Rainforest Festival ini dilakukan pada tanggal 22 Juni 2021.

Salah satu wilayah yang menjadi bagian dari Rainforest Festival adalah Hutan Citalahab. Selama 24 jam, dua orang konservasionis muda sukarelawan Yayasan Kiara, yaitu Auzan dan Nanang, ikut berpartisipasi dalam acara Rainforest Festival ini. Mereka menjelajahi  Hutan Citalahab untuk mendokumentasikan keanekaragaman hayati  yang mereka temukan selama satu hari. 

Pada pagi hari, biasanya akan lebih mudah menemukan beberapa jenis burung. Identifikasi jenis burung dapat dilakukan melalui suara maupun pengamatan secara langsung dengan bantuan binokuler, monokuler, ataupun lensa kamera. Beberapa jenis burung yang ditemukan adalah cekakak sungai (Todiramphus chloris), sepah gunung (Pericrocotus miniatus), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), uncal buau (Macropygia emiliana), merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier), kekep babi (Artamus leucorynchus), kicuit batu (Motacilla cinerea), takur tohtor (Megalaima armillaris), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), pelanduk semak (Malacocincla sepiaria), meninting kecil (Enicurus velatus), dan cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus).

Selain itu, beberapa jenis reptil dan amfibi juga dapat ditemukan di pagi hari. Meskipun pada umumnya kelompok reptil dan amfibi ini adalah hewan nokturnal (aktif pada malam hari), tetapi juga dapat ditemukan ketika pagi hari karena satwa-satwa ini memanfaatkan sinar matahari untuk berjemur (basking) dan menjaga kesembangan suhu tubuhnya Beberapa jenis reptil dan amfibi yang ditemukan adalah bangkong tuli (Limnonectes kuhlii), kongkang jeram (Huia masonii), kongkang racun (Odorrana hosii), bangkong serasah (Leptobrachium hasseltii), katak pohon hijau (Rhacophorus reinwardtii), cicak batu (Cyrtodactylus marmoratus), dan cicak kayu (Hemidactylus platyurus).

Selanjutnya, di dalam Hutan Citalahab juga dapat ditemukan beberapa jenis satwa mamalia, seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus mauritius), surili (Presbytis comata), owa jawa (Hylobates moloch), bajing kelapa (Callosciurus notatus), jelarang (Ratufa bicolor), dan musang luwak (Paradoxurus musanga). Berdasarkan beberapa hasil pengamatan dan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, masih ada beberapa jenis satwa liar lainnya seperti elang jawa, bunglon surai, kukang, kubung, macan tutul, dan satwa-satwa lainnya yang hidup di dalam Hutan Citalahab. Namun, ketika kegiatan observasi satu hari ini, keberadaan satwa-satwa tersebut tidak sempat ditemukan secara langsung.

Ketika malam hari, selain menemukan beberapa jenis satwa nokturnal, kita juga dapat menemukan jenis jamur yang dapat menyala. Meskipun jamur jenis Micenia sp. ini berukuran cukup kecil, namun karena kemampuannya yang dapat menyala membuat jamur ini menjadi salah satu jenis sumber daya hayati yang cukup unik. 

Beberapa dokumentasi dari pengamatan yang dilakukan di Hutan Citalahab ini diunggah dan diceritakan di instagram @yayasankiara agar siapa pun dapat melihat dan mendapatkan informasi mengenai keanekaragaman hayati yang ada di dalam Hutan Citalahab. Begitu juga dengan kolaborator lainnya yang melakukan pengamatan di lokasi yang berbeda-beda. Tidak hanya dari hutan hujan tropis yang ada di Indonesia, tetapi ada juga yang melakukan pengamatan keanekaragaman hayati hutan hujan tropis di luar Indonesia. Melalui tagar #RainforestFestival2021 yang ada di instagram, kita dapat melihat semua dokumentasi dan mengetahui bagaimana keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang ada di berbagai negara.

Walaupun hanya dalam waktu yang cukup singkat ternyata kita dapat menemukan begitu banyak biodiversitas yang ada di dalam hutan. Beragam satwa dan tumbuhan yang ada di dalam hutan ini akan saling berintegrasi dalam menjaga keseimbangan ekosistem untuk memberikan manfaat yang baik bagi bumi. Salah satu contohnya, ada beberapa satwa yang berperan dalam membantu penyerbukan dan penyebaran biji tumbuhan sehingga tumbuhan dapat tetap tumbuh dan memberikan oksigen bagi bumi yang sudah pasti oksigen tersebut akan dimanfaatkan pula oleh kita sebagai manusia. Kondisi ekosistem yang seimbang ini harus selalu kita jaga bersama, karena ketika sebuah ekosistem mengalami kerusakan maka dampaknya juga akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia.