
Peluncuran Buku Anak “Owa Butuh Hutan, Hutan Juga Butuh Owa”: Belajar Mencintai Alam Lewat Cerita dan Wayang
Narasi oleh: Rahayu Oktaviani
Sabtu pagi, 12 Juli 2025, Esposa Coffee yang terletak di Bogor Barat berubah menjadi ruang belajar tanpa dinding, penuh tawa, cerita, dan suara anak-anak yang penasaran. Terletak di tengah rindangnya pohon-pohon jati, tempat ini memberi nuansa teduh dan alami. Daun-daun jati yang lebar sesekali gugur ke tanah, menimbulkan gelak tawa anak-anak yang menganggapnya sebagai bagian dari permainan.Di tempat inilah kami dari Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA) meluncurkan buku cerita anak terbaru berjudul “Owa Butuh Hutan, Hutan Juga Butuh Owa.”
Sebanyak lebih dari 50 orang, termasuk anak-anak, orang tua, dan peserta dewasa, hadir dalam kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang, menunjukkan bahwa ketertarikan pada isu lingkungan bisa menjangkau siapa saja, dari berbagai usia. Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman lapangan yang kami jalani bersama tim peneliti dan para mahasiswa dalam memantau owa jawa (Hylobates moloch), primata endemik Pulau Jawa yang kini berstatus terancam punah. Selama ini, owa dikenal sebagai penyanyi hutan karena nyanyiannya yang khas. Namun lebih dari itu, mereka juga berperan penting sebagai penyebar biji: petani hutan alami yang membantu regenerasi ekosistem melalui pola makannya.
Sayangnya, nama owa jawa masih asing di telinga banyak orang, terutama masyarakat kota. Padahal mereka hidup tidak jauh dari pusat-pusat populasi manusia. Itulah mengapa kami memilih kota sebagai lokasi peluncuran, dan cerita sebagai jembatan untuk mendekatkan satwa ini kepada publik, khususnya anak-anak.
Cerita sebagai jembatan antara kota dan hutan
Peluncuran buku ini kami kemas melalui sesi storytelling dan pertunjukan wayang owa, media edukasi yang kami kembangkan dengan pendekatan budaya lokal. Anak-anak tak hanya mendengarkan cerita, tapi juga berinteraksi langsung: memegang wayang, menirukan suara owa, dan menjelajahi hutan lewat imajinasi.
Ilustrasi buku ini digambar oleh kawan baik saya, Aisyah Filqisti, seorang ilustrator yang berhasil menghadirkan suasana hutan tropis dengan warna-warna hangat dan figur yang hidup. Melalui tangannya, karakter owa terasa dekat dan akrab bagi anak-anak.
Salah satu orangtua yang hadir berkata, “Saya baru tahu ada satwa bernama owa jawa.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun mencerminkan betapa jauhnya jarak antara kota dan hutan, bukan hanya secara geografis, tetapi juga dalam pengetahuan dan rasa kepedulian.
Namun momen yang paling membekas datang dari seorang anak perempuan. Setelah acara selesai, ia berlari dan duduk di depan panggung wayang owa, memegang buku kami, lalu dengan polos berkata, “Aku mau jadi pendongeng.” Ia pun berpura-pura membacakan cerita kepada orang-orang dewasa di sekitarnya. Momen itu mungkin singkat, tetapi bagi saya, ia menyimpan harapan yang begitu besar. Karena keberanian untuk bersuara perlu ditanamkan sejak dini.
Konservasi tak hanya soal data, tapi juga rasa
Selama ini, konservasi kerap dikaitkan dengan angka: populasi, luas habitat, laju deforestasi. Semua itu penting. Namun ada satu aspek yang tak kalah krusial: rasa keterhubungan. Tanpa rasa memiliki, sulit membayangkan seseorang akan peduli dan bergerak.
Cerita, terutama bagi anak-anak adalah salah satu cara paling efektif untuk menumbuhkan rasa itu. Melalui karakter owa yang digambarkan dekat dengan kehidupan sehari-hari, anak-anak belajar bahwa satwa bukan sekadar objek perlindungan, melainkan bagian dari kehidupan yang saling terhubung dengan kita.
Buku ini merupakan bagian dari program edukasi jangka panjang KIARA, yang selama ini kami jalankan di desa-desa sekitar habitat owa jawa. Namun kami percaya bahwa kesadaran lingkungan juga perlu dibangun di kota-kota, tempat di mana banyak keputusan yang mempengaruhi nasib hutan dibuat setiap hari.
Membangun generasi yang mengenal dan mencintai
Saya tidak berharap setiap anak yang membaca buku ini akan menjadi aktivis lingkungan. Karena setiap anak punya kisah dan jalan hidupnya sendiri. Tapi saya berharap mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tahu bahwa owa jawa itu ada, dan bahwa hutan tempat mereka hidup adalah bagian penting dari kehidupan kita semua.
Karena bagaimana kita bisa mencintai sesuatu yang tidak pernah kita kenal?
Lewat cerita, kami berusaha mengenalkan. Dan siapa tahu, seperti anak yang ingin menjadi pendongeng tadi, akan lahir generasi baru yang suatu hari akan menulis cerita mereka sendiri, tentang bumi yang lestari, karena kita semua pernah percaya pada satu hal sederhana: owa butuh hutan, dan hutan juga butuh owa.
Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan KIARA yang telah hadir, dan kegiatan serta produksi buku ini terselenggara berkat dukungan dari ReWild.







Sebuah pembelajaran yang sangat bagus terutama kepada anak anak agarblebih mencinta alam dan isinya.