• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Catatan Perjalanan di Kota Pelajar: ISWBC 2026

Catatan Perjalanan di Kota Pelajar: ISWBC 2026

Narasi: Jasmine Alimah Savitri dan Alina Simokar 

KA Taksaka yang berangkat pagi itu, mengantarkan kami menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 6 jam. Setibanya kami di sana, kami diantarkan oleh seorang driver taksi online menuju penginapan kami di daerah Ngaglik. Setelah beristirahat sejenak, kami berjalan-jalan di sekitar penginapan sekaligus mengunjungi Alana Hotel & Convention Center, tempat yang menjadi tujuan utama kedatangan kami ke Yogyakarta.

The 2nd International Symposium on Wildlife, Biodiversity, and Conservation (ISWBC) 2026 diselenggarakan pada tanggal 11-12 Juni 2026. ISWBC merupakan sebuah simposium yang mengangkat berbagai topik mengenai upaya perlindungan hidupan liar dengan pendekatan yang beragam. Topik utama yang diangkat pada ISWBC tahun ini adalah keterhubungan riset tingkat spesies dengan kebijakan skala lanskap, strategi bisnis untuk keanekaragaman hayati, pemberdayaan komunitas, one health, serta konservasi hidupan liar di Papua.

Pada ISWBC kali ini, Yayasan KIARA – Kak Ayu, Kak Jasmine, dan Kak Alina – berkesempatan untuk membagikan pengalaman dan pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan bersama komunitas dan melakukan monitoring owa dalam jangka panjang. Selain itu, ISWBC juga menjadi ruang untuk bertemu dan berjejaring dengan para peneliti dan konservasionis, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Kegiatan ISWBC terdiri dari plenary session, sesi keynote speakers, dan oral session. Plenary session disampaikan oleh para narasumber yang berasal dari beberapa kementerian, NGO, perusahaan, serta perguruan tinggi. Pada sesi tersebut, setiap narasumber menyampaikan berbagai pendekatan yang digunakan dalam upaya mengatasi permasalahan lingkungan serta melestarikan keanekaragaman hayati.

Sesi Presentasi Oral: When The Gibbon’s Song Finds Voices through Women

Berbicara tentang oral session, Kak Ayu dan Kak Alina mewakili KIARA dalam membawakan dua topik yang tentunya berkaitan dengan program yang KIARA kerjakan, yaitu mengenai riset owa jawa dan pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi primata terancam punah tersebut.

Upaya pelibatan masyarakat bermula dari kegiatan berupa pelatihan literasi keuangan terhadap perempuan di Kampung Citalahab Sentral di zona penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Hal itu bermula dari tahun 2020 pascapandemi COVID-19 dimana kami menyadari bahwa perempuan Kampung Citalahab Sentral bertanggung jawab atas mengatur keuangan rumah tangga namun memiliki pengetahuan dan akses yang terbatas dalam mempelajari keuangan. Di samping itu, mereka juga memiliki pengetahuan akan pemanfaatan tanaman pekarangan bagi kesehatan, konsumsi, atau produk non-pangan lain, sehingga produk ecoprint dirasa dapat menjadi alternatif mata pencaharian yang berkelanjutan. Kelompok perempuan ini akhirnya tergabung dalam “Ambu Halimun”, berasal dari Bahasa Sunda, “Ambu” artinya Ibu, “Halimun” artinya nama tempat mereka tinggal.

Seiring bertambahnya tahun dan kebersamaan yang telah terjalin, kami menemukan banyak perubahan yang terjadi dengan Ambu Halimun. Sebagai contoh dari sisi manajemen keuangan, kesepuluh anggota Ambu Halimun memiliki tabungan masing-masing yang jumlahnya meningkat setiap tahunnya. Dari tabungan ini, salah satu anggota Ambu Halimun, Ikah, mampu melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan menengah atasnya. Tabungan ini membantu para Ambu untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.

Melalui Ambu Halimun pula, para perempuan ini meningkatkan keterampilan berbicara dan teknik bercerita mengenai Ambu Halimun kepada para pengunjung Kampung Citalahab Sentral — Kampung yang terkenal sebagai destinasi wisata — melalui Workshop Ecoprint bertajuk “Ngeco Bareng Ambu Halimun”. Workshop Ecoprint ini sendiri sudah menjangkau turis asing lebih dari > 11 negara di dunia.

Satu hal lain yang tidak kalah penting, melalui ecoprint para Ambu Halimun sudah mengarsipkan sekitar 30 jenis tumbuhan yang memiliki manfaat tak hanya untuk ecoprint, namun juga untuk hal yang lain. Sebagai contoh tumbuhan ganitri, taninnya dimanfaatkan sebagai pewarna alami bagi kain ecoprint, namun juga buahnya dimanfaatkan sebagai pakan alami owa jawa.

“Ambu Halimun tidak mulai terlibat dalam upaya konservasi karena kami yang mengajarkannya, sebaliknya keterlibatan tersebut tumbuh karena mereka memiliki rasa percaya diri, kebanggaan, dan rasa memiliki terhadap upaya konservasi serta proses yang mereka jalani”

Presentasi Alina

Pada kesempatan kali ini, Kak Alina menyampaikan presentasi mengenai riset owa jawa jangka panjang Yayasan KIARA, khususnya tentang pola pergerakan, persebaran tumbuhan pakan, serta perilaku teritorial owa jawa. Ternyata, pergerakan owa jawa memiliki tujuan, lho. Owa jawa tidak bergerak hanya untuk berkeliling, tetapi mereka juga mencari tumbuhan pakan yang mereka sukai. Beberapa pakan yang paling disukai owa merupakan tumbuhan dari kelompok Ficus atau ara, misalnya Ficus heteropleura, Ficus villosa, Ficus punctata, dan Ficus sumatrana. Selain itu, owa juga menyukai tumbuhan pakan selain Ficus, salah satunya adalah hamirung atau Callicarpa pentandra

Namun, owa ternyata tidak hanya mencari tumbuhan pakan, tetapi owa juga mengunjungi wilayah tertentu untuk menjaga “rumah” mereka. Owa mengunjungi daerah perbatasan dengan kelompok owa lain secara rutin sebagai bentuk pertahanan teritori. Hal tersebut merupakan salah satu ciri khas owa jawa sebagai spesies yang bersifat teritorial. Oleh karena itu, pola pergerakan dan penggunaan tumbuhan pakan oleh owa jawa tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan spesies pakan yang menjadi preferensi owa, tetapi juga oleh perilaku owa jawa sebagai spesies yang teritorial.

Open Booth Kolaborasi KIARA x JAWI!

Tak hanya oral session, KIARA juga melakukan kampanye owa jawa melalui open booth bersama Javan Wildlife Institute (JAWI). Tak disangka, respon para peserta ISWBC 2026 cukup meriah, dibuktikan dengan ramainya booth KIARA x JAWI selama dua hari periode ISWBC. Tak lupa, kami juga mengenalkan upaya konservasi owa jawa yang telah dilakukan dan program-program KIARA lainnya termasuk program pelibatan masyarakat/Ambu Halimun.

Melalui merchandise, kami berupaya untuk menyebarkan pesan konservasi owa jawa sebagai kera kecil terakhir dari Pulau Jawa serta mengajak semua orang turut serta dalam upaya konservasi owa jawa. Keuntungan yang didapatkan dari penjualan merchandise akan dialokasikan untuk program kampanye dan edukasi yang kami lakukan. 

Oh ya, #kawankiara yang tertarik untuk adopsi merchandise KIARA, bisa cek laman web kami ya di bagian https://kiara-indonesia.org/shop-2/ 😀

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *