
Lokakarya Pengelolaan Data dan Informasi Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun Salak 2026
Narasi oleh: Jasmine Alimah Savitri, Alina Simokar, dan M. Haikal Ilham Gunawan
Pada tanggal 20-22 Mei 2026, Yayasan KIARA melaksanakan kegiatan “Lokakarya Pengelolaan Data dan Informasi Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun Salak”. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Yayasan KIARA dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang diikuti oleh 10 orang peserta dari tiga Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN), yaitu Lebak, Bogor, dan Sukabumi.
Pengenalan Sistem Data
Rangkaian Lokakarya dibuka dengan pengenalan sistem data oleh Kak Andi N. Cahyana yang mencakup beberapa materi berupa teori dan praktik yang berhubungan dengan data dan informasi mengenai keanekaragaman hayati. Menariknya, data keanekaragaman hayati yang ada sudah terstandarisasi melalui pengambilan data menggunakan SMART patrol. SMART Patrol sendiri merupakan aplikasi database yang digunakan untuk menghimpun data lapangan dan terintegrasi dengan SMART Mobile.
Lebih lanjut, peserta juga didampingi dalam proses identifikasi jenis dan atribut data, mereka terbagi ke dalam 4 kelompok: Balai TNGHS, Seksi I Lebak, Seksi II Bogor, dan Seksi III Sukabumi. Mereka dipersilakan untuk mendeskripsikan setiap atribut data yang ada dalam tabel metadata dari SMART Patrol.

Praktik Analisis Data
Hari kedua pelaksanaan lokakarya diisi dengan sesi yang lebih interaktif melalui sesi demonstrasi dan praktik. Berbeda dari hari pertama yang lebih berfokus pada konsep dasar, kali ini peserta menerapkan berbagai metode pengelolaan data yang dapat langsung diaplikasikan dalam proses manajemen data. Kegiatan diawali dengan pembahasan mengenai alur data dan informasi. Diskusi berlangsung aktif karena para peserta saling berbagi pengalaman mengenai proses pengumpulan di lapangan hingga pengelolaan data di masing-masing SPTN.

Selanjutnya, peserta mempelajari metode penyimpanan data, baik secara offline maupun online melalui cloud storage. Materi tidak hanya membahas penyusunan struktur folder dan penamaan dokumen supaya lebih rapi dan mudah dicari, tetapi juga pentingnya pengaturan akses pada folder data Bersama untuk menjaga keamanan data dan mencegah kebocoran informasi.
Sesi berikutnya berfokus pada proses data cleaning. Peserta saling berbagi pengalaman mengenai metode yang sering digunakan serta tantangan yang dihadapi saat membersihkan data, sekaligus mempraktikkan teknik identifikasi data ganda, kesalahan penulisan, serta format yang tidak konsisten. Beragam kendala yang sering dijumpai menjadi pemantik diskusi yang mendorong para peserta bertukar perspektif dan solusi berdasarkan pengalaman di lapangan.

Suasana lokakarya semakin menarik ketika memasuki sesi praktik penggunaan power query di Microsoft Excel. Sebagai fitur yang masih relatif baru bagi para peserta, sesi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, melalui praktik berkelompok, para peserta menggunakan power query untuk mempercepat proses pengolahan data yang sebelumnya dilakukan secara manual. Setelah itu, lokakarya hari kedua ditutup dengan materi dan praktik mengenai query serta visualisasi data menggunakan Power BI. Pada sesi ini, peserta mempelajari teknik pemilahan data biodiversitas serta mengolahnya menjadi visualisasi yang informatif melalui berbagai jenis grafik dan dashboard interaktif. Dengan demikian, data yang sebelumnya berupa tabel dapat disajikan menjadi informasi yang lebih komunikatif dan mudah dipahami.

Diskusi Visualisasi Data
Pada hari ketiga, tanggal 22 Mei 2026 setelah peserta diberikan tugas untuk membuat dashboard data menggunakan software Microsoft Power BI, selanjutnya peserta melakukan presentasi berkelompok untuk memaparkan hasil pembuatan dashboard tersebut. Hasil yang dipaparkan menunjukkan bahwa penggunaan software tersebut sangat membantu dalam proses visualisasi database yang dimiliki oleh pihak Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Sebelum penutupan kegiatan, seluruh peserta mengisi form post-test sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembelajaran untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan selama lokakarya. Hasil post-test ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta, sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap efektivitas pelaksanaan lokakarya ke depannya.

Selain itu, kegiatan ini menjadi peluang penting untuk menciptakan sistem informasi biodiversitas yang lebih terorganisir dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan data yang efektif, beragam informasi tentang jumlah populasi, distribusi spesies, dan hasil pemantauan populasi satwa dapat terdokumentasikan dengan lebih baik, sehingga memperkuat usaha perlindungan dan pelestarian sumber daya alam di wilayah TNGHS. Inventarisasi dan monitoring biodiversitas yang dilakukan secara berkelanjutan juga berfungsi sebagai landasan dalam menilai keadaan ekosistem dan efektivitas program konservasi.
Melalui lokakarya ini, diharapkan dapat terbentuk komitmen bersama untuk memperkuat pengelolaan data dan informasi terkait keanekaragaman hayati sebagai dasar utama dalam mengelola kawasan konservasi yang adaptif dengan didasari ilmu pengetahuan, dan berfokus pada keberlanjutan. Adanya data yang baik dan terstruktur, pengelolaan TNGHS sebagai salah satu pusat pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan lebih baik dan bisa diukur.
