• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Menjaga Alam Lewat Cerita melalui Kegiatan Peluncuran Buku “Dari Mata Satwa”

Menjaga Alam Lewat Cerita melalui Kegiatan Peluncuran Buku “Dari Mata Satwa”

Narasi oleh: Karina Putri Dwiyanti Rahmat

Hari Minggu, 24 Mei 2026 kemarin menjadi hari yang cukup spesial buat aku. Kenalin, aku Karin, mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia yang saat ini sedang menjalankan tugas magang di Yayasan KIARA. Beruntung banget, kemarin KIARA diundang untuk hadir di acara peluncuran buku anak seri “Dari Mata Satwa” yang diadakan di Mainkan Playground & Cafe, Jakarta Selatan. Gak sendirian, di sana aku ditemani oleh Kak Jijah untuk mewakili tim KIARA.

Begitu sampai di lokasi, suasananya langsung terasa hidup dan menggemaskan! Karena ini acara peluncuran buku anak, pesertanya sebagian besar adalah anak-anak yang datang didampingi orang tua mereka. Serunya lagi, dresscode acara hari itu adalah cosplay satwa! Kebayang kan gimana lucunya melihat anak-anak kecil berlarian pakai kostum unicorn, penyu, kupu-kupu, sampai kostum penjaga hutan. Di akhir sesi nanti, kostum yang paling mirip dan totalitas bakal diumumkan sebagai pemenangnya, lho.

Acara dibuka dengan super ceria oleh Kak Mudi selaku MC. Sebelum masuk ke sesi berat, Kak Mudi ngajak anak-anak ngobrol santai dulu biar suasana lebih rileks dan cair. Setelah anak-anak mulai fokus dan nyaman, barulah sesi talkshow utama dimulai dengan menghadirkan tiga pembicara keren: Kak Iwok, Kak Deka, dan Kak Dimas.Seri “Dari Mata Satwa” ini sebenarnya total ada lima buku, yaitu Kolam Ternyaman, Dimana Telurku, Terumbu Karangku Rumahku, Gelap, Kelip, Pulang, dan Menunggu Awan Baru. Nah, kemarin kita berkesempatan langsung mendengar cerita dari dua penulis hebatnya.

Pertama ada Kak Iwok, penulis buku “Menunggu Awan Baru”. Melalui buku ini, Kak Iwok ingin mengenalkan Beruang Madu yang merupakan satwa asli Indonesia. 

Wow, ada Fun Fact loh! Selama ini kita mungkin mengira beruang itu semuanya berbadan raksasa seperti Grizzly. Tapi tau gak? Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah jenis beruang terkecil di dunia! Ciri khas mereka adalah bulunya yang hitam atau cokelat gelap, dan ada pola unik berwarna terang di bagian lehernya yang mirip kalung atau matahari terbit. Dan sesuai namanya, mereka hobi banget makan madu langsung bersama sarang-sarangnya!

Mirisnya, Kak Iwok mengingatkan kalau habitat beruang terkecil ini terus terancam oleh kebakaran hutan yang disengaja dan alih fungsi lahan oleh manusia. Lewat buku ini, anak-anak ditanamkan rasa cinta lingkungan agar mereka sadar: kalau hutan kita habis, beruang madu mau tinggal di mana lagi?

Cerita kedua dilanjutkan oleh Kak Deka yang menulis buku “Dimana Telurku”. Buku ini menyoroti kisah sedih Ibu Penyu Hijau yang kehilangan telur-telurnya karena dicuri oleh manusia untuk dijadikan obat. Melalui karakter ini, Kak Deka mengajak anak-anak (dan kita semua) untuk membayangkan bahwa hewan pun punya perasaan yang sama seperti manusia; mereka bisa merasa sedih dan kehilangan.

Penekanan Kak Deka penting banget: penyu sangat sensitif terhadap sampah plastik. Di alam, penyu punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut karena mereka memakan lamun (tumbuhan laut). Kalau penyu punah, lamun akan tumbuh tak terkendali dan mengganggu keseimbangan laut yang akhirnya dampaknya akan kembali merugikan manusia juga.

Suasana makin meriah saat Kak Dimas, Founder dari Trash Ranger ID, maju ke depan. Biar anak-anak gak bosan duduk lama, Kak Dimas langsung memimpin ice breaking singkat yang seru banget!

Di sela-sela keceriaan itu, Kak Dimas memberikan apresiasi yang luar biasa kepada para orang tua yang hadir. Di zaman digital saat ini, di mana anak-anak lebih sering memegang handphone, meluangkan waktu untuk mendampingi anak membaca buku fisik adalah hal yang sangat membanggakan.

Kak Dimas juga membawa pesan penting tentang darurat sampah. Beliau berdialog dengan anak-anak mengenai bagaimana sampah plastik yang dibuang sembarangan bisa membunuh hewan-hewan di pantai dan laut. Plastik itu termakan oleh ikan, dan tanpa sadar bisa masuk ke tubuh manusia juga melalui rantai makanan.

“Kalau melihat hewan mati di pinggir pantai, sedih tidak?” tanya Kak Dimas. 

“Sedih…” jawab anak-anak dengan nada lirih.

Melalui momen ini, anak-anak diajarkan untuk berkontribusi dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi plastik sekali pakai. Alam sudah memberikan air dan udara gratis, maka tugas kita adalah menjaga kelestariannya.

Memasuki penghujung kegiatan, acara dimeriahkan oleh sesi mendongeng bersama Kak Rania Yamin yang membawakan cerita dengan sangat interaktif.

Setelah itu, anak-anak diajak masuk ke sesi aktivitas kreatif, yaitu menempel stiker untuk membuat jurnal (journaling). Anak-anak diminta untuk menyusun stiker yang telah dibagikan pada lembar jurnal mereka masing-masing. Setelah selesai, mereka dengan berani maju satu per satu ke depan panggung untuk mempresentasikan hasil jurnal buatan mereka. Hasil karya yang ditampilkan sangat beragam dan terlihat sangat lucu mencerminkan imajinasi khas anak-anak. Sesi yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu pengumuman pemenang kostum cosplay terbaik. Senang sekali melihat apresiasi dan binar bahagia di wajah anak-anak yang menang. 

Pulang dari sana, aku membawa banyak refleksi baru. Sebagai mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, kegiatan ini menyadarkan aku bahwa kesejahteraan itu tidak hanya milik manusia, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan hidup bersama satwa dan alam di sekitar kita. Lewat kolaborasi antara penulis, komunitas lingkungan, dan orang tua, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang jauh lebih peduli pada bumi. 

Sampai jumpa di cerita keseruan magang Karin selanjutnya, ya! 

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *