
Banyak Cerita dari Kampung Adat Ciptarasa
Narasi oleh: Siti Hajar Hijriyah ‘Tiwi’
Halo #kawankiara!
Kenalin, aku Tiwi, mahasiswi Biologi UIN Jakarta yang lagi magang di KIARA dari program SOMPO Environmental Foundation (SEF).
Jujur, sebagai anak biologi, salah satu hal yang bikin aku semangat adalah eksplorasi ke lapangan!
Nah, kali ini aku diajak merapat langsung bersama tim KIARA — Kak Amin, Kak Dewa, dan Kak Azzizah — ke Kampung Adat Ciptarasa. Disana kami akan berbagi ceria tentang Hutan dan Owa Jawa, sekaligus melihat langsung kearifan lokal masyarakatnya melalui kegiatan Ciptarasa Lestari Camp! Kegiatan ini akan menghadirkan teman-teman dari berbagai kota, anak-anak dan para remaja serta kasepuhan masyarakat adat di sini.
Tepatnya 15 Mei 2026, Aku bersama tim KIARA berangkat menuju kampung adat Ciptarasa yang berada di Sukabumi, Jawa Barat. Akses jalan yang terjal naik turun, permukaan berbatu, dan curah hujan menjadi tantangan dalam perjalanan menuju kampung adat ciptarasa. Sesampainya disana, kami disambut hangat oleh keluarga Pak Cakra selaku sekretaris desa, Teh Indri (Istri Pak Cakra), dan Teh Echa selaku panitia acara. Sambil menyeruput kopi, kami berbincang-bincang tentang bagaimana kehidupan masyarakat adat yang ada disini hingga larut malam. Kami pun bermalam di kediaman keluarga Pak Cakra.
Suara beduk azan subuh, sahutan gongongan anjing, serta ayam berkokok menyambut pagi hari. Pukul 08.00 pagi, kami bersiap menelusuri rimbunnya hutan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak untuk melacak keberadaan Owa Jawa. Selama perjalanan trek hutan ini, kami ditemani oleh dua anak kampung adat yang lincah, Rafi dan Andi. Pepohonan tinggi berdiri kokoh di kanan-kiri jalur tracking seketika menyaring sinar matahari pagi, menyisakan berkas-berkas cahaya yang menembus kabut tipis. Semakin dalam masuk ke hutan, suara langkah kaki kami di atas tanah lembab kini berpadu dengan simfoni alam dari gesekan daun, aliran air, dan kicauan burung seolah menyapa kami.

“Uweeeek… uweeeek…uweeeek”
Suara owa jawa terdengar nyaring di sela-sela bunyi serangga tenggerek. Berbekal binokuler dan mata tajam, kami mengedarkan pandangan ke atas kanopi pohon, berharap bisa melihat keberadaan Owa Jawa. Sayangnya, meski suaranya terus terdengar dari kejauhan, kami belum dapat menemukan wujud fisik Owa Jawa. Namun, suara tersebut membuktikan masih adanya kehidupan Owa Jawa di hutan itu. Sekitar 3 jam kami bersama hutan, kami pun memutuskan untuk kembali ke kampung adat untuk melanjutkan rangkaian kegiatan.
“Sampurasun… Rampes…”
Kalimat sapaan dan jawaban yang sangat khas dalam Bahasa Sunda sebagai salam pembuka dalam kegiatan di kampung adat Ciptarasa. Sebagian besar perempuan disini memakai rok kain dan laki-laki memakai kain ikat kepala, mencerminkan keteguhan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal. Teman-teman peserta, kasepuhan, masyarakat adat ciptarasa lainnya berkumpul dan menyambut kedatangan kami semua di Imah gede — rumah besar sebagai rumah tinggal Abah (kasepuhan) sekaligus pusat pemerintahan adat.

Sebagai bagian dari elemen alam, kegiatan ini menghadirkan materi “Konservasi dan Satwa Liar” dengan tujuan untuk membangun kesadaran ekologis dan mendorong keterlibatan aktif peserta dalam konservasi. Tepatnya tanggal 16 Mei 2026, KIARA diberikan kesempatan untuk mengisi sesi tersebut, dimana KIARA memperlihatkan betapa dekatnya kehidupan masyarakat adat disini dengan alam sekitar. Terutama air, telah menjadi media penghubung utama yang menyatukan napas kehidupan masyarakat, Owa Jawa, dan alam disana.
Sesi KIARA pun berlangsung, teman-teman peserta mengikuti pre-test terlebih dahulu seputar Owa Jawa. Sesi selanjutnya dilanjutkan penyampaian materi tentang “Hutan dan Owa Jawa” yang dibawakan oleh Kak Amin.
“Apa sih yang terlintas dipikiran teman-teman ketika mendengar kata ‘Hutan’?” Pertanyaan mulai dilontarkan untuk mencairkan suasana.
“Hijau!”, “Paru-paru dunia!”, “Sumber kehidupan!” Kang Ashab, Kang Waqyu, dan Kang Ikhwan saling sahut-menyahut memberikan jawaban.
Kak Amin kemudian menjelaskan terkait peran hutan bahwa melalui akar-akar pohonnya, hutan yang berdampingan dengan kita disini seperti spons yang menyerap air dan menyimpannnya, lalu mengalirkannya ke sungai-sungai sebagai sumber air kehidupan kita semua. Kehebatan hutan dalam menyimpan air ternyata tidak lepas dari peran penting salah satu satwa penghuninya, yaitu Owa Jawa.
Suasana makin seru saat Kak Amin melempar tebakan, “Siapa yang tahu sebutan atau bahasa lokal dari Owa Jawa?”
“Uwek!” dengan ceria Teh Puri menjawab — salah satu remaja masyarakat kampung adat.
Kak Amin tersenyum lalu menambahkan sedikit trivia penting. Owa Jawa atau Hylobates moloch disebut sebagai “Owa Jawa” karena primata satu ini memang spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa. Selain itu, sebagai pecinta buah-buahan, Owa Jawa berayun-ayun diantara kanopi pohon sambil makan buah sekaligus menelan biji buah. Biji-biji yang tidak tercerna kemudian keluar bersama kotoran yang tersebar di berbagai sudut hutan dan tumbuh menjadi bibit pohon baru. Keren kan! Makanya tidak heran kalau Owa Jawa dijuluki sebagai “Petani Hutan”, karena secara tidak langsung merekalah yang menanam pohon-pohon baru yang menjaga kelestarian hutan sekaligus membantu menyerap air sebagai sumber kehidupan. Keberadaan mereka di hutan ini bener-bener spesial dan saling timbal balik. Uniknya lagi, Owa Jawa hampir tidak pernah turun ke tanah karena ada ancaman predator seperti macan tutul. Untuk minum saja, mereka mengandalkan embun dari dedaunan di atas tajuk pohon. Jadi, tanpa hutan yang lebat, Owa Jawa tidak bisa bertahan hidup, dan tanpa Owa Jawa, kelestarian hutan pun bisa terancam. Hubungan sedekat itulah yang bikin mereka harus kita jaga banget!.

Tidak hanya cerita lewat kata-kata, Kak Amin juga mengajak teman-teman yang hadir untuk menonton video kehidupan Owa Jawa. Ruangan langsung hening seketika, mereka sangat fokus dan penuh penasaran untuk mengenal kera kecil ini lebih dekat. Melalui materi dan video tersebut, teman-teman disini banyak belajar hal baru, mulai dari cara membedakan monyet dan kera, melihat harmonisnya keluarga kecil owa, mendengarkan suara khas Owa Jawa, fakta kalau mereka adalah pemakan buah-buahan, sifat mereka sebagai penjaga wilayah teritorial, durasi masa hidupnya, ancaman-ancaman yang terjadi terhadap Owa Jawa, hingga nomor pelaporan.
Lucunya, setelah video selesai, suasana ruangan langsung pecah! Seisi ruangan kompak bersahut-sahutan menirukan suara Owa Jawa, “Uweeeek… uweeeek…” bikin suasana jadi ramai dan penuh tawa. Salah satu fakta lain yang paling menarik perhatian adalah sifat Owa Jawa yang setia pada pasangannya, alias monogami. “Owa Jawa aja setia, jangan kalah sama Owa Jawa!” Kak Amin melontarkan celetukan yang disambut tawa renyah seisi ruangan. Selain setia, kasih sayang induk Owa Jawa kepada anaknya juga luar biasa, anak Owa Jawa akan selalu digendong dan dibawa kemana pun oleh induknya selama dua tahun pertama hidupnya. Makanya, tindakan menangkap Owa Jawa di alam liar adalah ancaman yang sangat kejam karena pasti memisahkan mereka dari keluarganya, membuat Owa Jawa mengalami stress berat hingga trauma, sehingga membutuhkan proses rehabilitasi yang panjang agar bisa dilepaskan ke hutan.
Selama sesi KIARA, teman-teman disini sangat antusias mengikuti materi dan aktif bertanya. Salah satunya Kang Waqyu yang penasaran bertanya, “Kira-kira kontribusi apa sih yang bisa kita lakukan buat bantu Owa Jawa dalam waktu dua hari ini? Kan kita tidak langsung terjun ke lapangan atau ke hutan.”
Kak Amin pun memberikan tips yang bisa langsung diterapkan. Mulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan dan mengelola sampah sendiri, kemudian jika kita melihat ada konten di media sosial yang memelihara Owa Jawa, tindakan nyata bisa kita lakukan adalah langsung me-report-nya.
Tak terasa sesi KIARA selesai, kami pun membagikan buku dan stiker kepada teman-teman semua. Dari sesi ini, memahami peran Owa Jawa dan Hutan membuka perspektif baru bahwa keduanya menjadi satu paket lengkap yang saling menjaga, dan sekarang giliran kita yang harus terus bijak dan peduli dari hal kecil di sekitar kita untuk masa depan yang lebih baik.
Sore hari, kami diajak keliling kampung adat untuk melihat kearifan lokal masyarakat. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, Kak Amin dan Kak Dewa masuk ke kelompok 1, Kak Azzizah di kelompok dua, dan aku di kelompok tiga.
Menyusuri rumah-rumah dengan arsitektur seperti rumah panggung yang tersusun dari dinding bilik bambu menciptakan suasana pemukiman sunda tempo dulu. Pemandangan gunung, sawah, perkebunan, dan leuit, tak terpisahkan dari lanskap Ciptarasa.
Giliran aku bersama kelompokku melihat proses penumbukan padi di saung lisung, “Tuk tak dung tuk tak dung tuk tak tuk tak tuk tak dung” Irama dari ketukan alu (penumbuk padi) yang beradu dengan lisung itu terdengar harmonis, seolah menjadi simbol kebersamaan masyarakat yang terus bergema. Menurutku, ini menjadi momen yang paling seru ketika aku diberi kesempatan untuk mencoba menumbuk padi. Ternyata tidak mudah melakukannya, karena alunya berat banget! Sehari-hari para perempuan tangguh di sinilah yang biasa melakukannya.
Kemudian kami menengok ke salah satu rumah masyarakat yang sedang memasak gula aren. Kami berkesempatan mencicipi “Wedang”—air nira dari pohon aren yang masih dipanaskan diatas wajan sebelum menjadi gula aren yang kental. Kami pun kompak menyahut, “Hmmm manisnya wedang ini!”. Selanjutnya kami berkeliling kampung melihat banyaknya leuit yang berjejer ditengah rumah. Leuit merupakan lumbung padi atau tempat penyimpanan padi untuk stok beberapa bulan atau tahun kedepan.
Di kampung adat ini juga terdapat kerjasama untuk cek kesehatan gratis dari dokter yang datang kesini. Layanan ini sangat membantu masyarakat, mengingat akses disini masih terbatas. Sekolah pun hanya ada SDN Linggarjati dan profesi guru yang sangat minim di kampung ini, sementara SMP dan SMA jaraknya sangat jauh di luar kampung sehingga banyak anak terpaksa tidak melanjutkan Pendidikan. Realitas ini memberi makna mendalam tentang pentingnya pemerataan dan kemudahan akses.

Malam harinya, kami menyaksikan tarian jaipong yang dibawakan oleh anak-anak yang menunjukkan keindahan budaya yang terus diwariskan. Selain itu, kami juga berkesempatan mengobrol, bercerita, dan bertanya langsung dengan pihak kasepuhan, dimana kami belajar bahwa pola pertanian padi di kampung adat ciptarasa mengikuti siklus tahunan yang diatur secara adat yang menginduk ke Kasepuhan Gelaralam. Menariknya, masyarakat disini menanam berbagai macam jenis padi lokal yang seluruh hasil panennya sama sekali tidak boleh diperjualbelikan. Padi hanya ditanam dan dipanen sekali dalam setahun dengan setiap prosesnya selalu diiringi ritual adat yang menjadi bagian dari kehidupan spiritual dan budaya ciri khas masyarakat ciptarasa. Keunikan ciptarasa adalah ritual adatnya, seperti Ngaseuk, sapang jadian pare, pare nyiram/mapag pare beukah, sawenan, mipit pare, nganjaran/ngabukti, ponggokan. dan seren taun. Salah satu yang terkenal yaitu upacara seren taun yang merupakan acara puncak sekaligus penutup dari setahun prosesi penanaman dan panen padi yang menjadi symbol kehidupan masyarakat yang masih dipertahankan ke-aslian tatanan dalam memelihara budaya. Oleh karena itu, sektor pertanian inilah menjadi ikon utama sekaligus fondasi kehidupan masyarakat adat ciptarasa disini.
Perjalanan eksplorasi pun dilanjutkan keesokan harinya. Kami memulai hari dengan senam dan lanjut melaksanakan bebersih lembur atau operasi semut untuk memungut sampah di sekitar kampung. Kemudian, kami menanam bibit dari pohon nangka, jenis kayu (puspa dan palahlar), dan kopi, sebagai bentuk kepedulian dan menjaga keseimbangan alam. Barulah kami berjalan menuju sungai yang menjadi kehidupan masyarakat disini. Di sepanjang perjalanan, kami saling berkenalan dan asyik bertukar cerita. Lucunya, ditengah-tengah perjalanan, sejenak kami dikejutkan oleh abang-abang yang jualan es krim dan tahu bulat. Momen random yang sukses bikin kami tertawa dan langsung tergoda membelinya.

Langkah kaki kami akhirnya sampai di tepi sungai. Aliran sungai jernih ini bukan cuma menyegarkan mata, tetapi juga punya peran krusial. Derasnya aliran air sungai disini dimanfaatkan masyarakat untuk memutar turbin mesin mikrohidro, yang kemudian mengubahnya menjadi energi listrik lewat PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro). Aliran listrik inilah yang kemudian dialirkan langsung ke rumah-rumah warga dengan biaya iuran listrik bulanan yang terjangkau, tetapi dengan batas waktu 18 jam pemakaian tiap hari. Sebagian masyarakat yang lain juga ada yang sudah memakai PLN sebagai alternatif. Disini akses internet memanfaatkan teknologi digital melalui penjualan voucher Wi-Fi yang membuka jalan bagi masyarakat untuk tetap terhubung dengan dunia luar. Setelah mengamati teknologi kampung ini, kami langsung nyebur dan main air di sungai yang jernih dan segar sambil menikmati pemandangan alam yang asri. Di sini kami juga belajar bagaimana masyarakat bisa hidup berdampingan dengan hutan dan air sungai yang menyediakan sumber daya utama, sekaligus tetap adaptif dengan perkembangan zaman.
Perjalanan kami ditutup dengan pengalaman yang tidak kalah mendebarkan saat kembali ke imah gede menaiki mobil pick-up dengan bak terbuka, sebuah momen yang jadi salah satu paling seruu karena harus melewati jalanan yang super naik-turun, tetapi sambil menikmati pemandangan yang indah sepanjang jalan. Setibanya disana, kami langsung bersiap-siap untuk pulang, tak lupa menyempatkan diri membeli oleh-oleh di bazar lokal seperti gula aren asli dan kerajinan tangan khas berupa gelang serta cincin unik dari pakis dan rotan yang dibuat tradisional menggunakan alat jara.

Lewat seluruh rangkaian eksplorasi ini, kami membawa pulang pelajaran berharga bahwa memegang teguh adat tidak berarti menutup diri dari kemajuan zaman dan dapat tetap menjaga ketahanan pangan, serta bagaimana masyarakat disini membuktikan bahwa alam akan selalu mencukupi kehidupan jika kita mau merawatnya secara bijak. Dari petualangan ini, kami juga belajar tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan adat yang menjadi rumah aman bagi satwa dilindungi seperti Owa Jawa.
