
RASAMALA 2026: Puncak Perjalanan Satu Tahun Ajaran Pendidikan Konservasi
Narasi oleh: Nur Azzizah Firdaus – Tim Edukasi and Kampanye
Tak terasa pertengahan tahun 2026 telah tiba. Bulan Juni menjadi penanda berakhirnya kegiatan pembelajaran di sekolah. Setelah satu tahun ajaran, anak-anak belajar berbagai pengetahuan dan pengalaman baru. Kini saatnya anak-anak menikmati masa liburan yang telah dinanti-nanti.
Namun, sebelum menutup tahun ajaran, dua sekolah yang mengalami kegiatan pendidikan konservasi reguler oleh KIARA yaitu, SDN Malasari 03 dan SDN Rimba Kencana mendapatkan satu kegiatan spesial yang menjadi penutup perjalanan belajar mereka di kelas V. Kedua sekolah tersebut dikunjungi oleh Kang Nuy (Muhammad Nur) sebagai fasilitator pendidikan konservasi KIARA.
Lalu, kegiatan spesial apa yang menjadi penutup perjalanan anak-anak di kelas V? Jawabannya adalah RASAMALA atau bersama berkemah di alam raya. Meskipun bisa dikatakan puncak kegiatan dari rangkaian program pendidikan konservasi yang berlangsung selama satu tahun ajaran, RASAMALA bukan sekadar kegiatan berkemah saja. Justru menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengimplementasikan dan mengulang kembali berbagai pembelajaran yang telah mereka terima melalui pengalaman langsung di alam. Dengan demikian, konservasi tidak hanya dipahami sebagai teori di dalam kelas saja, tetapi menjadi pengalaman yang bermakna dan harapannya dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Semangat anak-anak yang berapi-api sudah terasa sejak hari pertama kegiatan dimulai. Pagi itu, para panitia menjemput seluruh peserta di Joglo (tempat masyarakat Citalahab untuk menimbang teh). Anak-anak datang bersama guru-gurunya dari sekolah menggunakan mobil kolbak dan berkumpul lebih awal. Wajah-wajah ceria nggak sabar bermain dan belajar menghiasi raut mereka untuk mengikuti RASAMALA. Satu per satu, anak-anak diabsen, dibagikan ke dalam lima kelompok, dan cuss berangkat jalan bersama pendamping kelompoknya.
“Ayooo kaa, masih jauh nggak kak tempat kempingnya? Udah nggak sabar, nih!” seru mereka saat berjalan menuju camping ground.
Setibanya di area camping ground, anak-anak langsung disambut hangat oleh panitia lainnya. Saat panitia bertanya “capek nggak?” serempak mereka menjawab “nggak kaa”. Agar suasana semakin meriah, peserta bersama-sama melakukan tepuk semangat dan 123 sebagai pembuka kegiatan RASAMALA.
Setiap peserta juga menerima buku aktivitas yang akan menjadi teman belajar serta slayer dengan warna yang berbeda tiap kelompoknya. Tak butuh lama, setiap kelompok bersama pendamping mulai membangun kekompakan dengan saling berkenalan dan membuat yel-yel khas mereka. Pelan-pelan mereka menyusun lirik lagu dan gerakan sebagai pengiringnya. Waktu diskusi pun selesai dan setiap kelompok maju untuk menampilkan yel-yelnya. Setiap kelompok memiliki gaya yang berbeda-beda, tetapi semuanya berhasil menciptakan suasana yang meriah.
Setelah menampilkan yel-yel, setiap kelompok bersiap menghadapi tantangan berikutnya untuk mendirikan tenda. Didampingi semua panitia, anak-anak belajar bekerja sama untuk membentangkan alas tenda, memasang tiang, hingga mengaitkan setiap bagian agar berdiri tegak. Setelah berhasil membangun tenda dan cukup melelahkan, anak-anak diberikan waktu untuk istirahat makan siang.
Usai beristirahat, panitia mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan pos to pos. Ada berapa pos? Jumlahnya ada lima pos! Setiap kelompok bergantian mengunjungi lima pos tersebut dan didampingi oleh pendamping. Mereka akan belajar hal baru, mengeksplorasi lingkungan sekitar, hingga mendapatkan tantangan di setiap pos.
Pos 1 (Eksplorasi Mikroskop)

Di pos 1, anak-anak diajak berperan sebagai peneliti cilik. Mereka belajar mengenal dan menggunakan mikroskop untuk mengamati berbagai objek yang ukurannya kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Fasilitator membantu anak-anak untuk mengamati stomata pada daun, sel dari bawang merah, mikrobiota pada sampel air, dan bulu ayam. Tak jarang ketika mereka berhasil menemukan objek yang diamati, terdengar seruan dari mereka, “Wah, ternyata bentuk kayak gini, ayo gambar-gambar”.
Pos 2 (Eksplorasi Tumbuhan dan Ecoprint)

Di pos ini, anak-anak belajar mengenal lebih dekat dengan dunia tumbuhan. Kegiatannya diawali dengan belajar mengenal bagian-bagian tumbuhan beserta perannya. Kemudian, fasilitator mengajak mereka untuk eksplorasi berbagai jenis tumbuhan terutama bentuk daun yang ada di lingkungan sekitar. Dari pengamatan tersebut, mereka belajar bahwa setiap tumbuhan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Keseruan berlanjut saat peserta diajak untuk menghasilkan karya yang unik dengan cara memanfaatkan tumbuhan, namanya ecoprint. Mereka diberikan kain tas serut, talenan, palu, dan daun-daunan yang telah mereka kumpulkan. Lalu, mereka mulai menyusun daun di atas kain dan mencoba mengetuknya perlahan agar warna alaminya keluar, berpindah ke kain, dan membentuk pola yang indah. Mereka sangat semangat untuk mengetuknya, sehingga tak heran jika pos dua menjadi pos yang paling ramai dan berisik karena suara tok…tok..tok… dari palu yang beradu dengan talenan.
Pos 3 (Eksplorasi Serangga)

Berlanjut, di pos 3 menjadi tempat anak-anak menjadi penjelajah kecil yang mencari dan mengamati berbagai jenis serangga di sekitar lokasi camping ground. Dengan didampingi fasilitator, mereka mengamati warna, jumlah kaki, dan peran serangga yang ditemukan. Dari pos ini, anak-anak belajar tentang serangga yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem , seperti membantu penyerbukan dan bagian dari rantai makanan.
Pos 4 (Detektif Sampah)

Setiap kelompok yang datang ke pos 4 mendapatkan tantangan untuk menjadi detektif sampah. Nah, pos ini merupakan pos baru yang ditambahkan pada tahun ini. Mereka diajak untuk mengingat kembali materi tentang sampah yang telah dipelajari di sekolah saat pendidikan konservasi reguler berlangsung. Menurut mereka, sampah merupakan barang yang sudah tidak terpakai lalu dibuang dan dapat mengotori lingkungan. Ngomong-ngomong tentang lingkungan, fasilitator pun akhirnya mengajak mereka menelusuri area pos untuk mengambil dan mengidentifikasi sampah yang ditemukan. Sampah yang mereka temukan ada tiga jenis, organik (daun kering & rumput kering), anorganik (sedotan plastik, kantong plastik, sendok plastik, & kemasan plastik), dan B3 (pecahan mangkok & tusuk sate).
Selain itu, fasilitator juga mengajak mereka untuk melakukan simulasi banjir dengan maket yang telah dibuat. Pada maket tersebut terdapat rumah, tumbuh-tumbuhan, dan botol yang diibaratkan seperti sungai atau saluran air. Ketika sungai tersebut dialiri air yang bersih dan tidak tercemari oleh sampah maka makhluk hidup yang didalamnya akan hidup serta sungai dapat dimanfaatkan oleh manusia. Namun, ketika sampah yang mereka temukan dimasukkan ke dalam sungai tersebut maka akan menyumbat aliran air dan air akan naik ke atas lalu terjadi banjir dan membasahi rumah. Dari praktik tersebut, anak-anak belajar tentang alasannya kita harus buang sampah pada tempatnya dan tidak membuang sampah sembarang terutama sungai karena yang terkena dampak adalah semua makhluk hidup.
Pos 5 (Eksplorasi Biota Air)

Keseruan anak-anak juga berlanjut di pos 5, tempat mereka diajak mengenal berbagai biota yang hidup di sungai. Fasilitator mendampingi mereka menyusuri sungai untuk mencari makhluk hidup yang ada di sungai menggunakan serokan ikan yang besar dan kecil. Berbagai biota berhasil mereka temukan, seperti nimfa capung, keong, dan ikan. Melalui kegiatan eksplorasi ini, anak-anak menyadari ternyata di sungai menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat banyak. Hewan-hewan kecil yang selama ini sering luput dari perhatian ternyata memiliki peran penting dalam ekosistem sungai.
Setelah semua kelompok selesai belajar di setiap pos, mereka berkumpul kembali di camping ground untuk beristirahat dan makan siang. Meskipun telah melalui berbagai aktivitas yang cukup melelahkan, mereka tampak sangat senang bisa belajar bersama para fasilitator. Saat ditanya tentang pos favorit, hampir semua anak menyukai seluruh rangkaian kegiatan. Namun pos 1, pos 2, dan pos 5 menjadi yang paling berkesan bagi mereka.
Memasuki malam hari, anak-anak mengikuti aktivitas baru yang tak kalah menarik, yaitu pengamatan herpetofauna (herping). Sebelum turun ke lapangan, mereka mendapatkan pengenalan materi dengan fasilitator mengenai amfibi, seperti katak dan kodok, serta berbagai reptil. Ternyata banyak peserta yang sudah sering menjumpai hewan-hewan tersebut di sekitar rumah mereka.
Anak-anak sudah menggunakan headlamp dan setiap kelompok didampingi fasilitator dan pendamping untuk menyusuri jalur pengamatan. Di beberapa titik, beberapa kelompok berhasil menemukan berbagai herpetofauna, seperti katak dan ular. Hewan yang ditemukan kemudian ditempatkan sementara dalam kantong kain untuk memudahkan identifikasi.
Setelah waktu pengamatan selesai, seluruh kelompok kembali ke tenda bersama. Anak-anak bersama fasilitator mengidentifikasi spesies yang berhasil ditemukan. Mereka juga diajak menuliskan hasil pengamatan dan pengalaman selama kegiatan sebagai bentuk refleksi pembelajaran. Seluruh spesimen yang diamati kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya, sehingga kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengajarkan pentingnya menghargai dan menjaga kehidupan satwa liar di alam.

Pada hari kedua, Minggu 21 Juni 2026, anak-anak sudah bangun sejak pagi untuk membereskan perlengkapannya di tenda. Meski kegiatan hari sebelumnya cukup padat, semangat mereka tidak berkurang untuk memulai petualangan barunya. Sebelum memulai, seluruh peserta mengikuti senam pagi bersama. Tidak hanya anak-anak, para guru, panitia, dan fasilitator pun ikut bergerak bersama, menciptakan suasana yang penuh semangat dan keceriaan.
Setelah tubuh terasa lebih segar, anak-anak bersiap mengikuti kegiatan tracking. Sebelum berangkat, mereka dikenalkan dengan berbagai peralatan yang biasa digunakan dalam kegiatan lapangan, seperti binokular, GPS, rangefinder, dan handy talky (HT). Sebagai bekal selama perjalanan, setiap peserta juga menerima buah jeruk agar tetap bugar.
Selama di perjalanan, anak-anak belajar menggunakan HT untuk saling berkomunikasi dan mengabarkan posisi kelompok mereka. Mereka lebih jago saat melewati beberapa medan di hutan dan cukup menantang. Setelah, melewati banyak perjalanan, mereka tiba di Resort Cikaniki, TNGHS. Di sana mereka bertemu dengan salah satu petugas Taman Nasional dan diberikan penjelasan mengenai kawasan konservasi serta perannya dalam melindungi keanekaragaman hayati.
Petualangan masih berlanjut menuju Curug Macan. Di sana, anak-anak tampak begitu gembira bermain air bersama teman-teman sambil menikmati suasana alam yang sangat rimbun pepohonan. Setelah puas bermain, seluruh peserta kembali ke camping ground menggunakan truk tronton untuk mengikuti acara penutupan dan salam perpisahan.
Suasana haru pun terasa saat kegiatan berakhir. Selama dua hari, anak-anak tidak hanya belajar tentang alam dan konservasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru, membangun kebersamaan, dan menciptakan kenangan yang menyenangkan. Senyum dan cerita yang mereka bawa pulang, semoga menjadi pengalaman baru dan bekal untuk terus mencintai dan menjaga alam di masa depan.
Terima kasih, Rasamala!