• admin@kiara-indonesia.org
  • Bogor, Indonesia
Peran Para Pendidik dalam Mengarusutamakan Konservasi Owa Jawa

Peran Para Pendidik dalam Mengarusutamakan Konservasi Owa Jawa

Narasi oleh: Amin Indra Wahyuni

Kabar baik kembali kami terima dari wilayah Kecamatan Kabandungan, Sukabumi. Kali ini bukan dari hutan rumah si owa jawa, tapi dari sekolah. Kabar dari Bapak & Ibu Guru anggota Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG) Kecamatan Kabandungan mengajak kami untuk melaksanakan kegiatan diskusi bersama. Melalui tangan Pak Asep, Guru dari SDN Pamengpeuk 1 yang menjadi salah satu guru yang terlibat dalam Lokakarya guru yang dilaksanakan Yayasan KIARA Januari 2026 lalu, komunikasi baik ini kemudian terus terjalin.

Tim edukasi KIARA diajak untuk berbagi pengetahuan dalam kegiatan rutin FKKG Kecamatan kabandungan, sebuah kesempatan yang baik bagi kami untuk memperkenalkan Owa jawa kepada para pendidik sekaligus mengenalkan modul kokurikuler yang sedang kami susun bertema: ‘Bangga Owa Jawa’. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menyebarluaskan pengetahuan dan kepedulian terhadap kera kecil endemik Pulau Jawa ini.

Tepat pada hari Sabtu, 22 Agustus 2026 bersama dengan tim edukasi KIARA & mahasiswa magang program SOMPO NGO Learning batch VIII. Kami tiba pukul 08:00 di SDN Neglasari. Kehadiran kami disambut baik oleh Bapak Dian Cahyadi ketua FKKG Kecamatan Kabandungan. Sembari menunggu berkumpulnya bapak ibu guru yang lain, kami saling bertukar informasi terkait FKKG, kegiatan guru, juga terkait Yayasan KIARA, tiga program utama kami, area kerja dan kesibukan yang tengah kami laksanakan.

Kegiatan kemudian dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya & Mars Sukabumi, sambutan Bapak Dian Cahyadi selaku ketua FKKG Kecamatan Kabandungan, disambung oleh perkenalan tim dari Yayasan KIARA, dan resmi dibuka oleh Bapak Husen selaku Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Kabandungan.

Saya mendengarkan sambutan beliau dengan seksama, beberapa hal yang disampaikan membuat hati saya tersentuh; “Bapak ibu guru, owa jawa adalah kebanggaan tanah Pasundan. Kegiatan bersama KIARA ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menggali material pendukung seperti modul dan bahan ajar, serta mendukung kurikulum muatan lokal atau terintegrasi dengan mata pelajaran. Terima kasih Yayasan KIARA berkenan hadir, alam semesta adalah sumber belajar bagi kita semua, termasuk juga dengan owa jawa.” Bapak Husen kemudian melanjutkan sambutannya “Bapak Ibu guru saya harap dapat mengikuti kegiatan kegiatan hari ini dengan baik.”

Sambutan yang membuat kami semakin semangat memulai kegiatan ini.

Berada di depan kelas, di hadapan bapak & ibu guru pendidik adalah satu tantangan tersendiri bagi kami.  Materi pertama tentang owa jawa kami sampaikan dan respon guru sangat positif. Para Bapak dan Ibu Guru mendengarkan dengan seksama, dan menyambut pertanyaan pemantik dari pemateri “bapak ibu, hutan penting untuk keberadaan air karena pohon yang ada di dalamnya, punya peran untuk menyimpan air. Nah sama juga seperti sungai, bapak-bapak ada yang suka mancing? Kalau pohon dan hutan nggak ada, saya rasa sungai juga akan kering. Bapak-bapak tidak bisa mancing lagi, nggak asyiq.” Begitulah pembukaan materi pentingnya hutan dan owa jawa dibalut dalam cerita hari-hari agar lebih relate dengan keseharian bapak ibu guru. 

Setelah pematerian tentang hutan dan owa jawa, kegiatan memasuki sesi diskusi. Pak Muhammad Iqbal Sutisna dari SDN Tangkolo bertanya tentang cakupan kerja Yayasan KIARA dan bagaimana data penelitian owa jawa dapat berdampak pada upaya konservasinya, kemudian Bapak Deni Mahendra dari SDN Pajagan bertanya apakah KIARA dapat menghubungkan sekolah dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak untuk keberlanjutan program konservasi. Selain pertanyaan, tanggapan positif dari Ibu Yeti (SDN Pandan Arum) juga kami terima, beliau menyampaikan harapan bahwa KIARA dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan pemahaman guru dan siswa tentang pentingnya konservasi.

Memasuki materi kedua tentang kurikulum dan modul kokurikuler, kami banyak mengajak guru aktif berinteraksi untuk menanggapi tiga jalur pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka: intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler. Penjelasan ini membuka diskusi tentang bagaimana posisi kokurikuler yang secara administratif wajib dilaksanakan dan bagaimana modul bangga owa jawa bisa berperan.

Diskusi bergulir sampai jarum jam menunjukkan pukul 12, seperti terdengar peluit panjang tanda berhentinya kegiatan. Kegiatan ditutup dengan mengisi kembali lembar asesmen sederhana yang bapak ibu juga sudah isi sebelum pelaksanaan kegiatan

Pada hari itu saya belajar banyak. Pengalaman dan pengetahuan baru yang menyenangkan. Dalam presentasi, bahkan muncul ide, gambaran sederhana bagaimana owa jawa bisa membuat anak-anak bangga tinggal di sekitar habitatnya dengan analogi. Bagaimana jika suatu hari owa jawa akan dikenal sebagai satwa ikonik jawa barat, sama seperti Komodo, reptil terbesar di dunia yang ditemukan di Pulau Komodo. Bagaimana jika kisah serupa berlaku untuk owa jawa, kera kecil endemik Pulau Jawa dengan suara yang mengagumkan ini, yang ternyata bisa juga ditemukan di Jawa Barat khususnya di Sukabumi.

Komitmen guru untuk melaksanakan pertemuan di hari sabtu agar tidak mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus sangat diapresiasi. Pengetahuan yang kita dapat memang sepatutnya kita sebarluaskan lagi. Seluruh guru yang turut serta dalam kegiatan ini berharap dapat berdampak lebih luas baik ke peserta didiknya, juga ke masyarakat.  Kemauan seorang guru untuk belajar lagi dengan tujuan untuk bisa membawa pengetahuan barunya ke dalam kelas dan lingkungan sekitar membuat kami merasa harus punya mental seperti ini juga. Bravo bapak dan ibu guru!

Kegiatan ini diakhiri dengan obrolan terkait keberlanjutan kegiatan bersama FKKG Kecamatan Kabandungan juga candaan terkait tim kami yang belum hapal lagu mars Sukabumi. Dengan senyum yang lebar kami sampaikan ‘Pertemuan selanjutnya insyaAllah sudah hapal pak, hehehehe’. Pertemuan hari ini menjadi langkah yang menunjukkan bahwa kami bisa berjalan bersama bapak dan ibu guru untuk melindungi keberadaan owa jawa di habitatnya.

Hati kami terasa penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur. Kami berpamitan lalu beranjak pulang melintasi liuk-liuk jalan Cianten, kembali ke Bogor.

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *