
Owa Bebas Berayun dan Bernyanyi dalam Hari Owa Sedunia 2025
Narasi oleh: Yasmine afiani
Halo semuanya! Aku Yasmine, salah satu anggota Tim 2 KIARA dalam kegiatan seru memperingati Hari Owa Sedunia 2025. Setiap bulan Oktober, tepatnya tanggal 24 Oktober, kita merayakan Hari Owa Sedunia! — si kera kecil yang suka berayun dan bernyanyi di hutan. Bertemakan “Bebas Bernyanyi, Bebas Berayun.”, yang menggambarkan harapan agar owa bisa terus berayun di dahan pohon dan bernyanyi riang di hutan tempat tinggalnya. Tahun ini, KIARA berkesempatan membawa keceriaan dan pengetahuan tentang Owa Jawa ke tujuh sekolah di tiga kabupaten, yaitu Bogor, Sukabumi, dan Lebak. Serunya, kegiatan ini dikemas dalam bentuk Pagelaran Wayang Owa yang penuh warna dan tawa!

Tim 2 sendiri terdiri dari Kak Zia, Kak Mine, Kak Ihsan, Kak Sekar, dan aku. Kami memulai perjalanan di SDN Pameungpeuk 1 pada tanggal 27 Oktober 2025. Aku mendapat tugas menjadi MC, sementara Kak Zia, Kak Mine, dan Kak Sekar menjadi dalang, dan Kak Ihsan bertanggung jawab di bagian dokumentasi. Begitu sampai, suasana langsung terasa hangat meskipun awalnya anak-anak masih malu-malu.
Saat kami menyiapkan panggung wayang, anak-anak terlihat penasaran dan mengintip dari balik jendela. Hanya butuh beberapa menit hingga semuanya siap, dan kami pun membuka acara dengan ice breaking berjudul “Tiru Suara dan Gerakan Owa”. Serunya luar biasa!
“Owa senang!” — semua anak berteriak, “Wup wup wup!” sambil melambaikan tangan.
“Owa sedih!” — mereka berseru, “Huhuhuhu,” dengan wajah cemberut lucu.
“Owa makan!” — “Nyam nyam nyam!” sambil pura-pura makan dengan riang.
Tawa anak-anak menggema di ruangan, membuat suasana semakin hidup. Setelah itu, kami menampilkan *Wayang Owa*—kisah yang penuh pesan tentang hutan, persahabatan, dan pentingnya kebebasan bagi para owa. Anak-anak duduk rapi dan fokus, bahkan ikut menirukan suara-suara dalam pertunjukan.

“Woooshhh, wooshhh, woosshh!”
“Syung,, Puk! Syung,,, puk!”
Begitu selesai pementasan, mereka antusias menjawab pertanyaan seputar wayang owa,
“Siapa saja nama tokoh di wayang owa?” tanyaku.
“Sanha! Sekar! Surti!” jawab mereka kompak dengan semangat.

Kegiatan berlanjut dengan materi tentang Owa Jawa yang dibawakan Kak Zia. Anak-anak belajar mengenal perbedaan antara kera besar dan kera kecil, ciri-ciri owa, habitatnya, makanan favorit, hingga alasan kenapa owa tidak boleh dipelihara. Ketika Kak Zia bertanya, “Apa kesamaan owa dengan manusia?” salah satu anak menjawab polos, “Punya rumah, suka main, suka makan, dan suka kebebasan.” Jawaban itu membuat kami semua tersenyum. Betapa jujurnya cara mereka memahami makna kebebasan.
Beberapa anak seperti Hendra, Fahira, Hayfa, Olivia, Dita, Syakira, dan Kaza berhasil menjawab pertanyaan dengan benar dan mendapat hadiah berupa buku dongeng serta pensil warna. Anak-anak masih terlihat bersemangat untuk membuat kreativitas topeng owa.
“Hari ini nonton wayang owa, belajar apa itu owa, seneng dan seru sekali!” kata Kalisa dengan mata berbinar.
“Seruu banget bikin topeng owa dan belajar owa Jawa,” tambah Gio.
Kami menutup kegiatan dengan foto bersama sambil mengenakan topeng karya mereka. Senyum dan tawa anak-anak menjadi kebahagiaan kami hari itu.

Keesokan harinya, 28 Oktober 2025, perjalanan kami berlanjut ke SDN Linggarjati di Kampung Adat Ciptarasa, Sukabumi. Di sini, suasana gotong royong terasa begitu hangat. Kami bersama anak-anak memindahkan meja dan bangku agar ruangan siap digunakan untuk pementasan.
Kegiatan dibuka oleh icebreaking yang dipandu oleh Kak Zia penuh gerak dan nyanyi,
“Tangan ke atas menggapai bintang, tangan ke samping burung yang terbang, tangan ke depan ikan berenang, duduk yang rapi,,, Tar putar putar tangan diputar, lung gulung gulung tangan digulung, ular melingkar di atas pagar, kanan, kiri, atas, bawah, horeee!“ Anak-anak mengikuti dengan kompak dan penuh semangat, membuat kami semua ikut tersenyum lebar.
Pertunjukan wayang kali ini juga disambut antusias. Saat sesi tanya jawab, mereka saling bersahutan menjawab pertanyaan.
“Dari cerita wayang tadi, gimana ya cara owa memakan buah sampai tumbuh jadi pohon baru?” Tanya Kak Zia.
“Owa makan buah sama bijinya, trus masuk ke perut, buang kotoran, trus tumbuh jadi pohon baru” Jawab Fatir sambil mengangkat tangannya dengan berani dan percaya diri. Sederhana tapi benar—cara lucu anak-anak memahami proses penyebaran biji di alam. Selain Fatir, 2 teman lainnya yaitu Liga dan Adep juga berani menjawab pertanyaan seputar wayang owa. Setelah itu, Kak Mine melanjutkan dengan materi tentang Owa Jawa. Anak-anak terlihat masih sangat antusias hingga sesi tanya jawab, banyak siswa yang berebutan ingin menjawabnya.
“Owa di hutan makan apa aja ya?” Tanya Kak Mine
“Buah, bunga, daun!” Jawab Nisa.
“Contoh buahnya apa aja tuh?” Tanya Kak Mine lagi
“Canar, Hamerang, Kondang, dan Sarai!” Jawab Caripah yang tidak kalah antusias.
Suasana jadi riuh penuh semangat. Anak-anak lainnya seperti Ajit, Budi, Zahra, Eka, Caca, Alfan, dan Rafi juga ikut menjawab pertanyaan yang diberikan Kak Mine. Kegiatan ditutup dengan membuat topeng owa Jawa dan berfoto bersama. Melihat raut wajah mereka yang bangga dengan karya masing-masing membuatku yakin—pengetahuan tentang alam bisa tumbuh dengan cara yang menyenangkan.

Perjalanan ini bukan hanya tentang memperkenalkan Owa Jawa, tapi juga tentang menanamkan cinta terhadap alam sejak dini. Dari tawa dan sorak anak-anak, aku belajar satu hal: menjaga alam adalah tentang kebersamaan, keceriaan, dan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam.
